<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Monday, June 28, 2004

mari berhenti sejenak

Perjalanan hidup ini melelahkan, ya sangat melelahkan. Betapa tidak, di saat idealisme kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam corak dan warnanya, kita harus bertahan karena kita tidak ingin tujuan hidup kita yang jauh ternodai dengan kepentingan sesaat. Ini bukan soal halal atau haram terhadap dunia dengan segala keindahannya, tapi soal menyikapinya agar tidak tergiur dan terpedaya olehnya.

Gambaran ini dapat kita rasakan di saat harus mengatakan tidak di hadapan mereka semua yang berkata iya. Ketika ramai-ramai orang bicara ini dan itu dengan segala argumentasinya, tuntutan idealisme kita membisikkan kita untuk diam, tatkala orang lain menilai bahkan mengecam kita dengan tuduhan ini dan itu, idealisme kita pun hanya mengisyaratkan kita untuk sekedar senyum tanpa kata-kata. Di saat orang beretorika dengan segala keahlian bahasanya, idealisme kita pun hanya meminta kita untuk membaca pikiran di balik pikiran. Dan ketika orang ramai-ramai memperbincangkan dunia dengan segala kenikmatannya, idealisme kita pun hanya mengalunkan satu kata, qona'ah (red: menerima, nerimo). Itulah idealisme kita di hadapan mereka.

Terkadang tanpa terasa idealisme kita tergeser lantaran pikiran kita terbawa arus yang kita tidak menyadarinya. Belum lagi kondisi jiwa kita yang terus bergejolak mempengaruhi pikiran kita. Pikiran-pikiran itu selalu datang silih berganti tanpa kenal henti seiring dengan perjalanan hidup ini.

Memang, ini semua kita pahami sebagai sunnah (red: ketentuan) kehidupan. Gelombang dan badai harus dipahami sebagai ladang ujian, problematika hidup merupakan hal tidak bisa dipisahkan dari hidup, pahit getir menjadi bumbu yang harus dirasakan oleh setiap kita, jatuh bangun adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita.

Letih, lelah itulah yang sering kita rasakan, kita sering merasakan kejenuhan, bosan bahkan tidak peduli dengan kondisi. Namun jangan pernah ada perasaan pesimis apalagi putus asa karena di balik semua itu pasti ada sesuatu yang dapat kita jadikan pengalaman yang berarti. Dan yang kita perlukan adalah berhenti sesaat. Berhenti bukan berarti selesai atau sampai di sini. Berhenti untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita lalui, berhenti untuk memompa kembali semangat beramal, berhenti untuk men-charge baterai keimanan kita agar tidak redup.

Kita butuh waktu untuk melihat kondisi jiwa kita agar tetap stabil dan tahan dalam menghadapi segalanya. Kita terkadang lupa bahwa ada yang harus kita tengok dalam diri kita, ruhiyah (red: sisi batin) kita. Kondisi ruhiyah kita yang selalu membutuhkan suasana yang teduh, tenang sehingga ia menjadi kekuatan yang akan melindungi jiwa kita dari berbagai rintangan yang akan menghalangi kita. Kita memerlukan nuansa ruhiyah yang nyaman agar dapat berpikir jernih dan tetap semangat menjalani hidup ini. Kita butuh ketegaran jiwa dalam menghadapi hiruk pikuk hidup.

Inilah yang senantiasa diajarkan oleh Muadz bin Jabal RA kepada sahabatnya dengan ungkapannya yang menyejukkan hati mari duduk sesaat untuk beriman. Berhenti sejenak untuk menengok kembali kondisi keimanan agar tetap terjaga. Karena segala yang kita alami dalam hidup harus dihadapi dan bukan lari darinya, ingatlah bahwa lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu, bisa jadi justru akan menambah masalah baru. Memperbaharui keimanan akan membawa kita untuk memahami hakekat hidup ini dengan segala problematikanya. Mari kita sempatkan untuk selalu memperbaharui keimanan kita di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan.

published by: RaKa Mardika @ 4:01:00 PM

Tuesday, June 22, 2004

s t o r y

ilmu

Sore itu sungguh tenang dan hangat, sehangat jiwaku. Terlebih lagi jika ku ingat kejadian seminggu yang lalu, kejadian yang hampir saja melepas nyawa dari ragaku ini, membuat sore itu jadi semakin hangat melebihi hari-hari yang lalu. Dibuai angin sepoi dan mega emas, kukenang kembali hari itu, hari yang menjadi awal kehebohan yang akan terjadi pada sorenya.

Kejadian itu masih jelas tergambar di mata. Dengan riang ku bawa alat pancingku seperti biasa menuju sungai agak jauh di belakang rumah. Memang aku terbiasa memancing setiap sabtu sore di sungai yang tak terlalu besar itu. Kucari tempat biasa aku memancang pancing, tapi sayang, tempat itu kini beraliran deras. Aneh, pikirku, tak seperti biasanya. Akhirnya kususuri pinggir sungai mencari tempat yang lebih tenang, tempat yang paling disukai ikan. Cukup lama hingga ku temui tempat itu, tempat yang luar-biasa. Aku langsung bersiap dan kulempar kail tapi... Tempat itu ternyata licin hingga kakiku tergelincir. Spontan ku coba raih kayu di sekitar sebagai pegangan, namun ternyata kayu itu lapuk dan patah. Begitu cepat tubuhku terperosok dari tempat yang cukup curam dan menggelinding jatuh menuju air. Aku berusaha mengepakkan tangan dan kaki seperti burung namun semakin lama tubuhku semakin tenggelam. Aku baru sadar bahwa aku tak bisa berenang!

"Toloooong!!" tanpa tersadar aku berteriak sekuat tenaga disertai semburan air yang mulai masuk ke mulut. Aku masih terus berusaha untuk meronta agar terus mengambang, namun tak lama dan berlahan semua menjadi gelap dan perutku terasa penuh. Samar namun pasti, tubuhku melayang seperti terbang ke atas. "Ah, sudah matikah aku? Kemanakah aku akan pergi, ke surga atau ke neraka?" hatiku berkecamuk. Tubuhku terasa terus terangkat hingga permukaan bahkan mengambang di atasnya, namun lemah hingga mataku tak mampu ku buka lebar agar tahu surga atau nereka kah kini berada.

Pelan kudengar suara memanggil namaku, seperti dari kejauhan. "Bud..., Budi...," Dan semakin lama semakin jelas. "Ah, suara pak Kyai!" hatiku berseru. "Ah, mengapa suara pak Kyai ada di sini? Apakah pak Kyai juga sudah di surga?" pikirku dalam hati. Berlahan mataku mulai bisa ku buka dan silau. Berlahan pula bayangan pak Kyai hadir di hadapku. "Pak Kyai?" seruku cepat. "Kenapa pak Kyai ada di sini?" "Tenang Bud, tenang... Memang kenapa kalo Bapak di sini?" "Tapi.., pak Kyai belum.. belum..," Ia tersenyum, "Tentu saja Bapak belum mati, kamu juga belum kok!" Aku bingung bercampur lega. Dengan lembut pak kyai membopongku yang masih lemah dan mengantarku pulang. Tapi, kuat juga pak Kyai mampu mengangkatku dan anehnya, bagaimana pakaiannya tidak basah jika tadi ia menolongku dari air. Yah, pakaian putihnya masih kering!

***

Matahari semakin condong ke barat, bayangan pohon tepi sungai mulai menutupi permukaan air sungai yang kini cukup deras. Tempat yang biasa sepi dan hanya dilalui para pencari ikan itu, kini ramai seperti pasar adanya. Orang-orang berduyun-duyun, Bapak-bapak, Ibu-ibu, remaja juga anak-anak bercampur memadati pinggir sungai. Semua menanti dengan tak sabar kedatangan seseorang, seseorang yang terus saja disebut-sebut orang yang kini berdiri di pinggir sungai sambil berkacak-pinggang. Pakaiannya serba hitam dengan tutup kepala hitam pula. Kumisnya lebat dan paras mukanya nampak begitu angker. Ia dikenal sebagai Ki Golang, dukun setempat yang ditakuti. Berkali-kali ia menyumpah dan berteriak-teriak. "Mana Kyai Mullah! Jangan-jangan ia takut ketahuan kalo ilmunya tak ada seujung jariku!". Berkali-kali sambil hilir mudik ia berteriak. Aku yang sedari tadi ada di situ jadi merasa tak enak. Yah bagaimana aku bisa tenang bila kejadian ini berawal dari diriku, dari mulutku ini yang yang terlalu lancang. Walaupun setahuku aku hanya bercerita pada dua orang temanku, toh cerita itu semakin menyebar cepat melebihi kecepatan suara. Cerita pun semakin tak utuh dan semakin besar, bahkan cerita terakhir sungguh menjadi sebuah cerita, layaknya legenda. Katanya pak Kyai bisa berjalan di atas air! Meskipun aku yakin pak Kyai mampu untuk melakukannya, tapi berani bersumpah aku tak bercerita seperti itu!"

Orang-orang semakin ramai berbisik seperti dengung tawon dan tiba-tiba menjadi senyap saat sebuah langkah menuruni jalan setapak. Sosok yang berwibawa dengan jenggot yang mulai memutih sungguh serasi dengan pakaiannya yang putih bersih. Ia berjalan dengan berlahan namun pasti, diikuti pandangan orang-orang yang penuh dengan terkaan juga perkiraan.

"Nah, datang juga akhirnya! Kupikir pak Kyai takut untuk kemari?" Sapa ki Golang sinis. "Hanya Tuhan yang patut ditakuti ki Golang," jawabnya bijaksana "Nah, saya mohon maaf telah terlambat, karena tadi ada orang yang butuh pertolongan." "Ha ha ha, baguslah, ku pikir engkau takut Pak Kyai!" "Hanya Tuhan yang patut ditakuti, ki Golang," sekali lagi Kyai menjawab dengan jawaban yang sama "Nah, sekarang ada apa sebenarnya sampai harus mengundang orang sebanyak ini?" "Ha ha ha, jangan pura-pura tak tahu Kyai, semua orang juga tahu cerita tentang kehebatan Kyai." "Kehebatan? Kehebatan apa?" "Sudahlah Kyai, semua orang sudah dengar cerita yang katanya Kyai bisa berjalan di atas air. Sombong sekali Kyai, cuma bisa begitu sudah mengumbarnya ke masyarakat! Kalo cuma berjalan di atas air, saya juga bisa, bahkan menyeberangin sungai ini!" "Astaghfirullah, saya tak pernah berkata seperti itu," Pak Kyai menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melirikku yang berdiri tak jauh darinya. Aku semakin menjadi tak enak.

"Nah, Bapak-bapak, Ibu-Ibu, juga semuanya, kini saatnya saya perlihatkan siapa sesungguhnya yang terhebat di desa ini! Saya sudah 40 hari mengasah ilmu dan tirakat untuk hari ini, dan saat ini adalah saatnya untuk memperlihatkan hasilnya!" ki Golang berseru kepada seluruh masyarakat yang sedari tadi senyap menanti dengan penasaran.

Ki Golang melirik dan tersenyum sinis pada Kyai Mullah yang masih diam tak bergerak juga tak berkata. Ia melakukan persiapan dan duduk bersila di pinggir kali. Lama ia duduk berdiam dengan khusyuk dan tiba-tiba ia berdiri. Dengan sebuah teriakan yang membahana ia berlari menuju air sungai yang mengalir deras. Luar biasa, seakan sebuah daun ia berlari ringan di atas air! Benar-benar di atas air! Semua orang nampak takjub tak percaya dengan pemandangan yang mereka saksikan. Ki Golang benar-benar berjalan di atas air sambil berlari. Hanya Kyai Mullah yang nampak tenang bahkan lirih kudengar ia mengucap "Astaghfirullah." Aku hanya merasa bingung dengan semua ini, bagaimana kyai menyikapinya, "ah aku benar-benar bodoh!" pikirku dalam hati.

Tapi pemandangan luar biasa itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba ki Golang berteriak kuat dan... ia tenggelam tepat di tengah sungai yang beraliran deras. Seluruh masyarakat berteriak tak percaya. Mereka berlari ke pinggir sungai. Kyai Mullah yang sedari tadi diam langsung berseru memanggil Dullah dan Amir. "Cepat, kalian tolong ki Golang!" Orang yang diperintah langsung terjun ke sungai menolong ki Golang yang tak kelihatan lagi.

Lama juga Dullah dan Amir berenang menerjang aliran sungai yang deras dan menyelam menggapai ki Golang yang tenggelam. Untunglah ada Dullah dan Amir yang memang paling jago berenang di desa, dan akhirnya ki Golang dapat dibawa dipinggir. Kyai Mullah menghampirinya dan mengurut jari kaki ki Golang dan tak lama ki Golang tersadar. Tapi tiba-tiba ki Golang berdiri sehat seakan tak terjadi sesuatu dan tertawa. "Sudah-sudah, aku tidak apa-apa! aku cuma tenggelam, aku memang gagal tapi aku sudah separuh perjalanan!" teriak ki Golang. "Nah pak Kyai, sekarang giliranmu! Kalo Kyai bisa menyeberang melebihi yang aku bisa, aku akan bersujud di kakimu!" "Subhanallah, hanya Tuhan yang patut untuk diberi sujud, ki Golang!" "Rupanya Kyai takut?" Kyai hanya menggeleng tak percaya dengan kebengalan ki Golang. Dia hanya diam namun tak lama ia berkata. "Baiklah," spontan seluruh masyarakat bersorak dan bertepuk tangan. "Tapi, bukan aku yang akan melakukannya!" masyarakat kembali terdiam. "Nah ki Golang, berapa lama ki Golang belajar agar bisa menyeberangi sungai ini?" "Ha ha ha, 40 hari tirakat, puasa!" jawab ki Golang sombong. "Baiklah, aku akan mengajarkan cara menyeberangi sungai ini pada seseorang dalam waktu dua jam!" Semua orang menjadi terdiam tak percaya dengan ucapan Kyai, bahkan ki Golang melotot tak percaya. "Jangan bercanda Kyai," katanya. "Saya tidak bercanda dan saya akan mengajarkannya pada Budi!" Aku seperti disamber geledek saat mendengar namaku disebut. Aku hampir tak percaya sampai akhirnya tanganku digandeng Kyai ke depan. Mungkinkah Kyai bercanda, ataukah ini hukuman untukku karena telah mempermalukannya? Ataukah ia bersungguh-sungguh akan mengajarkan ilmunya padaku. Hatiku dag dig dug!

***

Dengan berwibawa, Kyai menggandengku ke tengah masyarakat tanpa banyak bicara. Beliau meminta golok dan tali pada seseorang dan memintaku untuk membawanya. "Mungkinkah ini salah satu alat untuk berlatih?" tanyakku dalam hati penasaran. Tapi Kyai mengajakku ke pepohonan di sekitar sungai dan memintaku untuk menebangnya, satu di antaranya yang tak terlalu besar. Juga dua pohon pisang dan membawanya ke pinggir sungai. Dengan cekatan beliau mengikat kayu dan dahan pisang menjadi satu. Ia juga mengajariku. Tak lama, tak lebih dari dua jam, terbentuk sebuah rakit kecil dengan dahan pisang di pinggirnya, juga sebuah galah yang cukup panjang. Dan tanpa banyak bicara dia mengajakku menariknya ke pinggir sungai dan membisikan sesuatu padaku. Aku menggangguk dan seketika aku menjadi tenang luar biasa. Dengan sekuat tenaga ku jatuhkan rakitku ke sungai dan menaikinya. Semua orang masih bengong, ada juga yang berbisik. Aku bersusah payah mengendalikan rakitku agar tak hanyut oleh aliran deras sungai. Entahlah, kekuatan apa yang telah kuperoleh tapi semuanya terasa ringan. Arus sungai yang deras itu mampu ku lewati dengan mudah, seakan aku mendapat tenaga dari orang yang kuat yang tak kelihatan. Aku hanya butuh setengah jam untuk menyeberangi sungai dan kembali lagi.

Setelah sampai di tepi lagi, Kyai menggapai tanganku untuk naik ke daratan. dan Beliau berkata. "Nah Bapak-bapak, Ibu-Ibu, juga semuanya, semua bisa menyeberangi sungai ini, tak hanya saya. Bahkan Budi yang sekecil ini," beliau memandangku dan tersenyum, "pun mampu." "Ilmu itu ada banyak, ada ilmu yang wajib, juga yang sunah, dan semua itu adalah Ilmu Allah, Ilmu-nya Tuhan. Nah tugas kita adalah mempelajarinya dan memilih ilmu mana yang paling berguna dan bermanfaat juga efisien bagi kita. InsyaAllah, apapun ilmu itu, jika dicari dengan jalan Tuhan, Tuhan akan meridhoinya.." Kyai Mullah masih menggandeng tanganku dan mengajakku pulang. "Sekarang mari kita pulang, mari kita terus bekerja sesuai dengan ilmu yang Tuhan anugerahkan pada kita. Ada yang diberi ilmu bertani, ada yang diberi ilmu nelayan, juga ada yang diberi ilmu mengajar. Mari kita pulang..."

***

Kejadian sore tadi masih membuatku terus berfikir, apakah Kyai benar-benar bisa berjalan di atas air? Tapi kenapa kemarin beliau malah mengajari aku membuat dan menaiki rakit? Tidakkah Kyai takut malu pada ki Golang?

Pertanyaan itu terus terngiang hingga aku bertemu Kyai Mullah setelah sholat Isya. Beliau nampak berseri memandangku. "Nah Budi, ada apa?" tanyanya lembut. "Saya mau minta maaf sudah merepotkan Kyai," kataku pelan. "Tidak, tidak Bud, kamu malah membantu Bapak," "Membantu?" "Iya," aku bingung dan hanya mengerutkan dahiku. "Kamu sudah membantu Bapak untuk berdakwah," lanjut Kyai. "Tapi Kyai, Budi boleh tanya sesuatu pada Kyai?" "Tentu," "Tapi Kyai jangan marah," Beliau tersenyum lebar. "Buat apa Bapak marah? Nah apa yang mau ditanyakan?" "Sebenarnya Kyai bisa berjalan diatas air kan?" Kyai tersenyum lembut dan membelai rambutku. "Apapun itu, bila Tuhan menghendaki, bisa terjadi" Kyai tersenyum lagi seperti biasa. Sungguh berwibawa dan sejuk. Aku menjadi yakin, Kyai bisa berjalan di atas air, bahkan mungkin beliau juga yang membantuku mengendalikan rakit meski tak terlihat.. Yah aku yakin, dan aku tersenyum bersama senyum Kyai Mullah.

***

Biarlah kerikil tajam di hadapan
Biarlah batu terjal menghadang
Raihlah dia
penunjukmu
pelitamu dalam hidupmu

Sungguh luas dia hingga ke penjuru dunia
Sungguh beraneka dia dan berwarna
Dan pilihlah dia
Yang terbaik untukmu
yang bermanfaat bagimu

Dia adalah ilmu

RSN--21/06/04/--RSN

published by: RaKa Mardika @ 3:58:00 AM

Tuesday, June 15, 2004

Nasionalisme Baru

Kita pasti ingat bahwa membangun bangsa ini tentu melalui sebuah proses panjang dan memiliki dialektika sosial, ekonomi serta politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang heroik. Di tahun 1908 yang kemudian dilanjutkan pada tahun 1928 melahirkan kesepakatan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda dan merupakan embrio dalam membentuk nation state. Dan ketika tahun 1945 kita sama-sama merdeka melalui perjuangan yang tidak melihat berbagai latar belakang etnis, agama serta golongan. Founding Father kita membentuk negara ini dengan cita-cita yang luhur yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini tercermin dalam perundingan-perundingan yang melelahkan, mencari nilai-nilai universal sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai itu terdapat dalam Pembukaan UUD 45 yakni Pancasila sebagai ideologi negara kita.

Dalam pemerintahan Soekarno, lepas dari kelebihan dan kekurangan kita telah memperoleh pelajaran berharga bagaimana nation and character building itu dengan sungguh-sungguh dibangun agar bangsa ini mempunyai harga diri (dignity) di mata bangsa-bangsa lain. Generasi pada zaman itu semua ingat dan pernah merasakan bagaimana bangsa-bangsa di dunia begitu segan terhadap Indonesia. Dan di tahun 1960-an dengan berani kita menyatakan diri keluar dari PBB. Indikasi ini memperlihatkan bahwa sebagai individu sangat bangga dengan apa yang telah kita perjuangkan bersama yakni nation state itu. Kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki semangat persatuan dan kesatuan yang kuat, dengan daya perekat bangsa yaitu Pancasila.

Ketika muncul rezim berikutnya, dengan tekad membangun bangsa ini lewat basis pertanian menuju negara industri, ternyata gagal. Sektor pertanian kita mengalami kapitalisasi dengan label revolusi hijau dan sangat sentralistik. Dengan demikian petani di negeri ini selalu termarjinalisasi dan selalu dijadikan sebagai obyek pembangunan.

Perubahan yang kemudian terjadi dengan adanya peralihan rezim yang berkuasa, mencuat isu demokratisasi dan HAM yang membuat kita semua lega. Tetapi muncul masalah di pelbagai bidang pada era keterbukaan di bawah label reformasi. Otonomi daerah digulirkan, tapi pemahaman antar daerah tentang tugas dan kewenangannya masih dalam proses adaptasi. Pada tataran politik, pemilihan gubernur, bupati dan walikota memunculkan masalah di pelbagai daerah akibat virus money politic yang tidak bisa dihindari, di samping muncul isu KKN yang mengharubiru pada berbagai sektor kehidupan. Dan bukan tidak mungkin money politic itu muncul pula pada pemilu langsung presiden dan wakil presiden 5 Juli mendatang.

Adanya berbagai gerakan separatis di NAD, Papua dan belakangan muncul RMS sedang ditangani oleh TNI-Polri. Hal ini yang terlihat di kalangan generasi muda kita adalah semakin skeptisnya terhadap nilai nasionalisme akibat pemahaman yang keliru. Indikasinya adalah dibuatnya sekat-sekat dalam bentuk berbagai organisasi pemuda yang memunculkan perbedaan yang jauh dari konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana membangun rasa nasionalisme baru pada seluruh rakyat untuk memperkuat negara kesatuan ini?

Jawabnya adalah: Pertama, merekonstruksi kembali pemikiran tentang pemahaman berbangsa dan bernegara pada alur yang benar di kalangan generasi muda, sesuai ideologi negara Pancasila. Kedua, karena bangsa ini memiliki tingkat pluralitas yang tinggi (Berge, 1983) sehingga harus dicari format baru sebagai landasan untuk memunculkan sikap saling toleran dan solidaritas di antara berbagai elemen dalam masyarakat yang plural itu. Di sini basis multikulturalisme itulah yang bisa mengeliminir hal tersebut dengan wacana dialog yang intensif sehingga menjadi pola perilaku yang merupakan bagian budaya bersama. Ketiga, mereka yang duduk di lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif harus memainkan peran profesional dengan mengedepankan sikap keteladanan, jiwa humanis, menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan selalu memihak pada rakyat terutama rakyat kecil, yang sekaligus merupakan representasi dari ketiga institusi itu.

Dengan tiga hal ini setidaknya dapat membangun kembali rasa nasionalisme baru yang bisa membangkitkan rasa percaya diri sebagai bangsa yang besar bukan saja dalam hal kuantitas, tapi juga kualitas yang dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain. [-z]

(Jefta Leibo, Sosiolog FISIP UNS dan peneliti pada Inpedham di Yogyakarta)

published by: RaKa Mardika @ 7:41:00 AM

Monday, June 14, 2004

i n f o

budaya kita menurut orang Jepang

Ahmad Darobin Lubis
Graduate School for International Development and Cooperation (IDEC) Hiroshima University

Prof. Nagano, Staf pengajar Nihon University memberikan kuliah intensive course dalam bidang Asian Agriculturedi IDEC Hiroshima University. Beliau sering menjadi konsultan pertanian di Negara2 Asia termasuk Indonesia. Ada beberapa hal yang menggelitik yang beliau utarakan sewaktu membahas tentang Indonesia:

1. Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam2

Setiap ada kegiatan selalu dirapatkan dulu, tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali, saling kritik, dan merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan ter-tunda2 padahal tujuan program tersebut sebetulnya baik.

2. Budaya Jam Karet

Selain dari beliau, saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang asing Yang pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang menurut anda terkenal dari Indonesia, dengan spontan mereka menjawab "jam Karet!" Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati, sudah sebegitu parahkah disiplin kita?

3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak(?)

Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa ditunda besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya sendiri tentang orang Indonesia. Beliau mengatakan, Orang Indonesia mempunyai budaya me-nunda2 pekerjaan.

4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan

Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para petani, pendampingnya dari direktorat pertanian datang dengan safari lengkap, padahal beliau sudah datang dengan "work wear" beserta sepatu boot. Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke lapangan, kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat sekali dalam bicara dan memberikan instruksi, tapi jarang yang mau turun langsung ke lapangan.

o o O o o

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina bobokan oleh istilah Indonesia kaya, masyarakatnya suka gotong royong, ada pancasila, agamanya kuat, dll. Dan itu hanyalah istilah, kenyataannya bisa kita lihat sendiri. Ternyata negara kita hancur2an, bahkan susah untuk recovery lagi, mana sifat gotong royong yang membuat negara seperti Korea bisa bangkit kembali. Kita selalu senang dengan istilah tanpa action.

Kita terlalu banyak diskusi, saling lontar ide, kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum apa2 sudah ramai duluan. Kapan kita akan sadar dan introspeksi akan kekurangan2 kita dan tidak selalu men-jelek2kan orang lain? Selama itu belum terjawab, kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya sudah mencapai titik minimal untuk disebut negara beradab dan tetap terbelakang di segala bidang.

Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua, terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu mengubah diri untuk menjadi lebih baik.

NB: Kita perlu refleksi dan berusaha untuk memperbaiki kekurangan kita masing-masing. Meminjam istilah dari Aa Gym, lebih baik kita pakai formula 3-M, yang menurut saya cukup baik:

M-1 = Mulai dari hal yang kecil
M-2 = Mulai dari diri kita sendiri
M-3 = Mulai dari saat/sekarang ini

o o O o o

Sudahkah Anda mendaftar untuk mengikuti Seminar Nasional Manajemen Produksi/Operasi yang pertama kali diadakan di Indonesia tanggal 30 Juni 2004, di Hotel Aston Atrium, Jalan Senen Raya, Jakarta? Jika belum bergegaslah menelpun 0812-185-6109 (Niko) Faks: 021-835-4520 UP: ROBS (jam kerja saja) atau e-mail: [robs_production@gaya.web.id] serta [netty@gaya.web.id]

Kapan lagi Anda belajar dari pembicara sekaliber Dr. Gunadi Sindhuwinata (CEO IndoMobil) dan Ir. Palgunadi T. Setyawan(Executive VP Raja Garuda Mas) dalam seminar yang sama?

Informasi seminar selengkapnya bisa didapat di http://www.ipoms.or.id/mambo
Group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Indo-POM/

published by: RaKa Mardika @ 8:26:00 AM

Friday, June 11, 2004

p o e m

Raga 1

Mulut
raga yang tak mengerti apa-apa
yang dipaksa ungkapkan kata-kata

terkadang nasehat sering pula hujat
terkadang Doa sering pula serapah
terkadang ratap sering pula amarah
terkadang kejujuran lebih sering Kebohongan

Mulut
Raga yang tak mengerti apa-apa
yang dipaksa ungkapkan kata-kata

published by: RaKa Mardika @ 10:28:00 AM

Thursday, June 10, 2004

s t o r y

BUN

SAYA LIHAT Bun di dalam masjid.

Dua hari lalu saya melayat ke rumahnya. Ayahnya meninggal. Ayah Bun adalah seorang pemuka agama. Sering berceramah di pengajian dan majlis taklim. Hampir setiap Jumat menjadi khatib, bergilir dari satu masjid ke masjid lain.

Banyak orang mengagumi kepandaian Ayah Bun bicara. Hampir setiap ceramahnya dipenuhi pengunjung. Sebagian sudah menjadi pengagum tetap. Ayah Bun pandai membawakan tema-tema agama dengan cara yang segar. Tak pernah membosankan.

Kebanyakan orang pun mencium tangan Ayah Bun jika bersua di jalan.

Tapi, itulah. Dua hari lalu, Ayah Bun meninggal. Banyak orang kehilangan namun dalam suasana bingung, tak percaya, kecewa, sangsi, dan marah.

Ayah Bun ditemukan mati dengan mulut berbusa pada sebuah malam. Tidak di rumahnya. Ia ditemukan sudah menjadi mayat, tergeletak kaku di sebuah kamar panti pijat. Ya, panti pijat. Dengan meninggalkan seorang wanita pemijat yang ketakutan dan berkeringat.

Ketika saya melayat, mata Ibu Bun, dua kakak Bun, dan seorang adik Bun yang mahasiswa, masih sembab. Bengkak bekas menangis menggunduk di bagian bawah mata mereka.

Bun tidak. Ia duduk diam di pojokan ruang depan. Tak di ruang keluarga, tempat jenazah Ayah Bun terbujur. Bun memang pucat tapi dengan ekspresi marah.

"Terima kasih. Terima kasih," itulah kalimat yang keluar dari mulutnya ketika saya menyalaminya, menyatakan ikut berduka cita. Ketika saya ikut mendoakan Ayahnya, Bun pun menjawab, "Jangan memaksakan diri. Jangan memaksakan diri. Biar saja."

Ternyata hanya kalimat-kalimat itulah yang keluar dari mulut Bun, setiap kali pelayat datang menyalaminya. Ia mengatakannya pada siapa saja.

"Terima kasih. Jangan memaksakan diri. Terima kasih. Jangan memaksakan diri. Biar saja."

***

SAYA LIHAT Bun di dalam masjid.

Saya menjejerinya, duduk pada shaf yang sama. Bun diam Pucat. Tak bergeming. Khotbah selesai. Kami semua berdiri, memulai shalat berjamaah. Tapi Bun diam saja. Tak bergeming. Bun tetap duduk. Dalam posisi itu pulalah saya temukan Bun, ketika shalat berjamaah usai. Bun tetap duduk. Diam. Tak bergeming.

Seusai shalat saya pertanyakan dan gugat ketidaksertaannya bershalat seperti jamaah lainnya. Ia bilang, "Tuhan tidak akan tertipu oleh banyaknya gerakan dan bacaan shalat kita. Bersujud dan diam hanya berbeda buat manusia. Tidak buat Tuhan. Tuhan tak bisa ditipu."

Bun adalah salah seorang teman terdekat saya. Ia dosen muda yang punya reputasi intelektual dan religius yang baik.

Bun, sebetulnya hanya nama panggilan. Ia memang bundar. Tak hanya fisik. Bagi saya ia bundar nyaris dalam segalanya. Jiwanya. Matanya. Pipinya. Wajahnya. Kepalanya. Badannya. Tekadnya. Semangatnya. Barangkali nyaris semuanya. Karena itu ia dipanggil Bun. Sebagian teman dekatnya sekarang bahkan sudah lupa nama aslinya. Saya, tentu saja tidak.

Bun sesekali menjadi khatib di masjid kampus. Di kali lain ia jadi pembicara diskusi, bedah buku, bahkan seminar. Bun memang pandai. Dan saleh. Kami satu angkatan. Kami nyaris senasib dan konon banyak punya kemiripan. Tentu dengan segenap kelebihan pada Bun dan kekurangan pada saya.

***

SAYA LIHAT Bun menjadi khatib.

Saya datang shalat Jumat terlambat, ketika bilal sudah berazan dan khatib sudah di mimbar. Saya lihat Bun di mimbar. Wajahnya masih pucat seperti Jumat lalu. Tapi dengan baju koko putihnya, Ia terlihat jauh lebih bersih dan rapi. Inilah kali pertama Bun menjadi khatib setelah kematian tragis ayahnya.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya hadir di sini untuk mengingatkan diri sendiri dan jamaah agar semakin bertaqwa. Dan kita masing-masing tentu punya cara sendiri-sendiri untuk meningkatkan ketaqwaan itu."

Bun menghentikan khotbahnya. Wajahnya menatap ke depan. Ia terlihat tak melirik teks khotbahnya sedikit pun. Atau jangan-jangan ia berkhotbah tanpa teks seperti beberapa khotbahnya yang lain. Bun masih diam.

Lima detik. Tetap diam. Tujuh detik. Tetap diam. Satu menit. Tetap diam. Saya lihat sejumlah jamaah tak sabar menunggu Bun untuk melanjutkan. Ada suara napas-napas tertahan. Beberapa jamaah di belakang malah mulai berbisik satu sama lain.

Dua menit. Lima menit. Tujuh menit. Delapan menit.

Bun tetap diam.

Masjid menjadi lebih gaduh. Seorang petugas masjid terlihat hendak mendekat ke Bun. Kelihatannya, ia ingin memastikan apakah Bun masih akan melanjutkan khotbahnya. Petugas itu kikuk. Ia terlihat ragu. Mungkin tak tahu bagaimana caranya berbicara dengan Bun, sang khatib. Mengajak khatib bicara, apalagi menegur dan menyuruhnya turun dari mimbar, kan tak pernah diatur caranya. Tak ada presedennya.

Jamaah makin gaduh. Beberapa jamaah yang mengenal reputasi Bun sebagai khatib, masih tetap tertib dan diam. Mungkin, mereka masih menunggu Bun bicara.

Tapi jamaah semakin gaduh. Petugas masjid yang ragu dan kikuk itu, akhirnya duduk kembali di tempatnya. Ia kelihatan bingung. Pandangannya beralih-alih, memandangi Bun lalu mengedarkan pandang ke kelompok-kelompok jamaah yang makin gaduh. Begitu berganti-ganti.

Bun tetap diam dengan mata menatap ke depan. Mukanya yang pucat kelihatan semakin memerah berwarna darah. Makin berseri.

Bun tetap diam. Sejumlah jamaah bahkan sudah ada yang berdiri, namun tak lama kemudian duduk lagi. Akhirnya Bun memang tetap tak mengeluarkan suara. Dua puluh menit. Bun pun nyaris tak bergerak. Ia hanya duduk di kursi khatib di menit ke-24, berdiri kembali beberapa saat kemudian, lalu diam selama enam menit sisanya.

Dan tiba-tiba dengan sangat tenang dan tegas Bun mengakhiri khotbahnya. "Aqimush-shalah. Tegakkanlah shalat. Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh."

Seusai shalat Jumat, Bun diinterogasi di ruang sekretariat masjid. Beberapa pengurus masjid tampaknya marah. Untung, sejumlah pengurus teras masjid, termasuk ketua umum, yang puritan itu, sedang tak ada, barangkali bershalat di masjid lain.

Bun tetap diam. "Tuhan tak akan tertipu oleh ucapan khotbah. Banyak berbicara atau diam hanya berbeda buat jamaah. Tidak buat Tuhan. Tuhan tak bisa ditipu." Hanya ini yang keluar dari mulut Bun menjawab pertanyaan-pertanyaan gencar banyak orang.

***

SAYA MENDENGAR kabar mengagetkan itu.

Bun meninggal dunia! Ia meninggal di kamarnya dalam keadaan duduk dengan muka tersenyum dan wajah bersih.

Jenazah Bun pun dibawa ke fakultas. Fakultas memang punya tradisi- tradisi tertentu untuk menghormati civitas akademika kampus. Salah satunya, jika salah seorang anggota civitas akademika tutup usia, jenazahnya disemayamkan di kampus. Bun tak terkecuali.

Bun terbujur di aula gedung Dekanat. Wajahnya tersenyum, seolah sedang tidur nyenyak. Mukanya bersinar.

Orang-orang mendengar kematian Bun dari berita mulut ke mulut. Berbondong-bondong mahasiswa, dosen, karyawan, satpam melayat ke aula gedung Dekanat.

Tadinya tak ada antrean. Lalu antrean terbentuk berkelok-kelok di dalam gedung. Semua ingin melihat wajah Bun untuk yang terakhir kalinya.

Antrean kemudian memanjang keluar gedung. Ke tempat parkir. Ke lorong-lorong ruang kuliah. Ke semua gedung lantai satu. Lantai dua. Lantai tiga. Lantai empat. Ke fakultas sebelah. Ke fakultas-fakultas lain. Ke semua fakultas. Ke hutan-hutan tanaman langka milik kampus. Ke pinggiran danau buatan. Ke perpustakaan universitas. Ke laboratorium-laboratorium fakultas Teknik dan Ilmu Alam. Ke rumah sakit fakultas kedokteran. Ke kantin-kantin. Ke stasiun kampus. Ke halte-halte bus kampus. Ke lahan-lahan yang masih kosong. Ke taman- taman. Ke asrama mahasiswa. Ke asrama mahasiswi. Ke pondokan dan tempat kos di sekeliling pagar kampus.

Setiap pelayat menemukan dan menyimpulkan kesan masing-masing tentang Bun.

"Wajahnya bersih dan bersinar."

"Senyumnya sangat manis dan penuh keikhlasan."

"Ganteng sekali, jauh lebih ganteng dibanding semasa hidup."

"Semua bagian tubuhnya bundar-bundar. Tetapi indah. Luar biasa indah."

Yang mengherankan semua orang, aula Dekanat semerbak wangi bau melati. Tak ada bau yang tersebar dari tubuh-tubuh pengantre yang bermandi keringat, basah kuyup, saking sesaknya. Semua orang berkesimpulan sama. Betapa nyaman berada di dekat jenazah Bun. Betapa lega, lapang dan sejuknya aula Dekanat yang sesak itu.

Di depan jenazah, semua pelayat mendekatkan wajahnya ke wajah Bun. Mereka pun bisa membaca sebuah tulisan tangan di atas kain kapan, tepat di atas perut Bun.

"Tuhan tak akan tertipu oleh kehidupan dan kematian. Mati dan hidup hanya berbeda buat manusia. Tidak buat Tuhan. Tuhan tak bisa ditipu."

Saya sangat kenal tulisan tangan Bun. Saya pastikan, itu tulisan tangan Bun sendiri.

[Depok, 19 Januari - 17 April 1996 -- Untuk Eneng dan Kaka]

Cerpen Eep Saefulloh Fatah
Republika, Minggu, 21 April 1996

published by: RaKa Mardika @ 10:03:00 AM

Thursday, June 03, 2004

s t o r y

Hai Yang Ku Cinta

Di antara dua Bunga

"Aku benar-benar lelah, maaf ya...," "Yah, wajahmu pucat banget sebaiknya kamu istirahat," Yuni meletakkan tasnya yang selalu kebesaran bila dibandingkan postur tubuhnya yang mungil. Widya yang nampak lesu menghela nafas panjang dan menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang lobi sekretariat. Memang benar kata Yuni kalau wajahnya begitu pucat, ia baru menyadarinya ketika nampak wajahnya di kaca meja. Ia coba pejamkan mata dan mengatur nafas. Sekilas agak samar suara ibunya terngiang seakan mengitari ruang lobi sekretariat yang penuh dengan foto anak-anak. Yuni dan Widya adalah salah satu anggota LSM. Mereka berusaha memperjuangkan anak-anak yang saat ini hampir sama sekali tidak diperhatikan oleh pemerintah. Widya lah yang paling sibuk karena ia mendapat tugas sebagai humas. Foto-foto yang digantung di dinding kini berubah menjadi wajah ibu, semua, ya semuanya dan tatapannya begitu tajam menusuk hingga ke dalam dada Widya. Dan ia hanya bisa berusaha mengatur nafas karena suara ibunya kini serasa semakin jelas, sekitar beberapa langkah darinya.

"Widya, sebaiknya kamu tidak berhubungan lagi dengan Hary," suara itu terus berkata berulang-ulang. "Tapi Bu, kenapa?" ia masih ingat berusaha mendebat, "Ada apa dengan mas Hary?" "Kamu ini masih nanya terus, biarpun sudah diberitahu," "Tapi, itu kan orang tuanya, bukan mas Hary Bu, mas Hary nggak ada hubungannya," "Nggak ada hubungannya gimana? Dia itu anaknya dan begitu orang tuanya, begitu juga anaknya...," "Bu, kami... kami saling cinta Bu," "Cinta, cinta, selalu itu alasanmu," wajah ibunya kian memerah di balik kaca mata. "Kamu tidak cinta ayahmu?" "I.. E.. Tt.. tapi itu kan bukan mas Hary Bu," mata Widya nampak makin bening memantulkan cahaya, "Lagian, kenapa juga Ayah menandatangani surat perjanjian itu...," "Widya!! Ka.. Kamu sudah berani menyalahkan Ayahmu..., Ka kamu..," wanita dengan rambut yang hampir separuh memutih itu tak lagi mampu menahan air matanya dan hanya bisa tersengguk. "Maaf Bu, aku tak bisa mengabulkan permintaan Ibu," Widya kini tak lagi mampu menahan kilau bening di pelupuk matanya dan membiarkanya mengalir diantara pori-pori kulitnya yang lembut. "Widya, Ibu sayang padamu, apa susah mengabulkan permintaan Ibu?" kini Ibu bangkit menghampiri Widya yang berdiri di depan pintu. "Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik yang layak kamu cintai Widya," "Tapi Bu, hanya satu laki-laki yang ku cintai," Seingat Widya, ribuan kali ibunya memperingatkannya dan ribuan kali pula ia berusaha bertahan. Dan pembicaraan mereka selalu dihiasi dengan air mata. Widya tahu jika ayahnya meninggal karena serangan jantung. Dan ia juga tahu jika kejadian itu disebabkan oleh pembatalan sepihak yang dilakukan orang tua Hary yang dulunya adalah sahabat ayahnya. Hingga suatu saat mereka melakukan perjanjian kerja sama namun ayah Hary menghianatinya yang mengakibatkan hampir seluruh kekayaan ayahnya habis. Dan kejadian itu pula yang menyebabkan ia menjadi yatim.

"Tapi itu kan ayah Hary, bukan Hary, dan Hary sudah berulang kali mengucapkan penyesalannya dan memohon maaf," bela Widya setiap ibunya marah ketika ia ketahuan bersama Hary. Mungkin bukan hal berlebihan bila Widya membela kekasihnya setengah mati, ia memang teman yang baik. Ia setia dan tidak sombong seperti ayahnya, setidaknya begitulah penilaian teman-temannya terutama Yuni teman baiknya.

Bukan tidak pernah ia berfikir ibunya sungguh kolot dan keras kepala. Bahkan ia pernah mengancam untuk pergi dari rumah namun ia urung saat melihat air mata ibunya yang memohon. Atau pernah pula ia dan kekasihnya memiliki niat untuk kawin lari. Ia ingin lari dari dilema yang menderanya yang membuatnya lelah dan hanya dapat terobati jika ia dekat dengan kekasihnya.

Mungkin itu yang membuat wajahnya begitu pucat hari ini tapi yang pasti ada peristiwa yang baru saja terjadi yang membuatnya marah hingga menguras seluruh energinya. Ia seakan merasa dirampok tepat di depan hidungnya. Seluruh jerih payah dan usaha yang telah dirintisnya seakan sia-sia ketika ia mendengar proposalnya tidak diterima. Padahal ia begitu yakin dan pihak unicef juga telah memberi sinyal baik sebelumnya tapi entah mengapa keesokan harinya segalanya berubah, dana bantuan itu telah disalurkan ke LSM yang lain. Mungkin jika hanya hal itu yang terjadi, ia tak akan begitu marah tapi LSM itu telah menjiplak semua idenya. Ia telah dirampok.

Kejadian itu kini seperti diputar ulang dalam kepalanya. Ia ingat betapa marahnya ia ketika ketua LSM itu dengan ringan berkata "Yah, siapa yang cepat dia lah yang dapat, bukan begitu?" Hampir saja ia menamparnya andai saja Yuni tidak sigap menahan tangannya yang telah berayun. Dan seketika seluruh temannya pun membawanya pulang ke sekretariat. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranya, sesuatu yang membuatnya merasa tertusuk tepat di lubuk hatinya. Sesuatu yang membuatnya gelisah. Dan pembicaraan itu seakan berputar lagi di kepalanya. "Widya, sabar widya....," bisik Yuni seraya menahan tangan Widya. "Sabar bagaimana? Aku telah dirampok dan aku harus sabar...?" "Ia kami tahu tapi nggak bisa dengan cara begini," "Kamu tahu apa Yun? Kamu tidak merasa memiliki ide ini karena ini semua ideku, dan aku layak mempertahankannya!" Yuni hanya bisa diam membisu. "Aku telah berusaha keras, menghabiskan waktuku yang berharga dan hak itu kini hilang begitu saja? Tidak, tidak hilang tapi dirampok!" "Widya, kami paham tapi ini di depan umum cobalah lebih rasional," suara lembut Ari ketua LSM begitu sabar. Mungkin hanya Ari selain Hary yang dapat meredam amarahnya saat itu. Ari begitu ia hormati dan kagumi karena kesabarannya, kebijaksanaanya dan kewibawaannya. Meski relatif muda untuk menjadi Kyai tapi ketinggian ilmunya mampu membawanya pada tindakan yang bijaksana yang hanya bisa dilakukan para kyai atau ustad.

"Menyakitkan memang, ketika melihat sesuatu yang telah kita usahakan, kita jaga, kita miliki dengan taruhan yang besar bahkan nyawa, hilang begitu saja," nasehat itu begitu lembut disampaikan, "Tapi itulah hidup, kita harus belajar merasakanya agar kita mengerti," Kalimat terakhir itu seakan menusuk hatinya, seakan memperingatkannya akan sesuatu, sesuatu yang selama ini serasa menyiksanya. Hingga tanpa terasa air matanya bagai lilin meleleh oleh sengat panas api. "Widya...," Ia buru-buru mengusap pipinya yang basah ketika mendengar suara Yuni memanggilnya. "Widya, itu ada yang ngejemput...," "Oh, mas Hary ya," Yuni hanya tersenyum mengoda dan berlalu. Ia bangkit, merapikan pakaiannya, meraih tas dan berdiri mematung sesaat. Di dalam hati ia berdoa. "Hai Mas," "Assalamu'alaikum..," "Waalaikum salam, udah lama nunggu?" "Ah enggak ayo naik," jawab Hary sambil membukakan pintu. Dan merekapun meluncur menelusuri jalan yang sedikit basah karena gerimis yang baru saja berhenti. Widya nampak membisu cukup lama hingga ia meminta untuk menghentikan mobil. "Ada apa? Ada yang tertinggal?" "B bbukan, ee aku cuma pengen ngomong sesuatu," Hary nampak bingung dengan sikap Widya saat itu, tapi dengan sabar ia mengikuti keinginan Widya. "Ada apa?" lembut Hary bertanya yang membuat Widya semakin berat mengatakannya. "Kamu sayang aku?" Hary sedikit bingung dengan pertanyaan ini, karena telah ribuan kali ia mengucapkannya. Tapi dengan sabar ia menjawab. "Tentu saja," "Kenapa kamu sayang padaku?" "Widya..., ini..." "Tolong Mas, jawablah...," potong Widya. "Karena.. karena.. kamu kekasihku..," "Apakah kamu merasa memiliki aku...?" "Wid..," "Jawab saja Mas, saya mohon," "Ya, tentu saja Widya," "Mengapa kamu merasa memiliki aku?" Lama Hary tak menjawab, ia hanya diam menatap Widya dengan bingung. Widya tahu, pertanyaan ini memang sangat sulit dijawab dan dia tak mengharapkan banyak agar Hary bisa menjawabnya. Ia mencintai Hary, benar-benar mencintainya dan Hary tahu itu dari pandangan matanya, tapi ia harus menanyakan ini, harus, agar ia bisa memilih. Agar ia bisa memilih seseorang yang layak mendapat hak akan cintanya, hak yang seharusnya menjadi miliknya. Dan orang yang bisa menjawab itu hanya ibunya. Yah hanya ibunya yang telah melahirkanya dengan susah payah dengan taruhan nyawa. Membesarkannya dengan pengorbanan yang besar. Tentu saja, ia memiliki alasan untuk menyayanginya dan mempunyai hak untuk memilikinya.

"Mas, percayalah aku mencintaimu, tapi kuharap engkau pahami ini," bening matanya nampak berkilat dan menetes pada tangannya yang membuka pintu mobil. "Ku tunggu Mas melamarku dengan mas kawin restu dari ibuku," ia ucapkan kalimat itu dengan terpatah-patah dan melambaikan tangan seraya pergi menjauh dan hilang dalam sebuah angkutan umum.

Tak kusalahkan hingga surga di bawah telapakmu
karena itulah hakmu
Mulialah engkau hingga hina aku tanpa senyummu
Bahkan airmatamu adalah penyesalan dalam hidupku
Ijinkan kucium kakimu
hingga ku kan rasakan
desir angin surga membelaiku

Best Regard with truly love,
Acan... R.S. Ngarasan

published by: RaKa Mardika @ 7:18:00 PM

Tuesday, June 01, 2004

s i g h t

Ketika 1 + 1 <> 2
Mengapa? Siapa yang harus dicaci?
Kumpulan sel-sel otak t'lah ditelusuri,
Tumpukan rapi memori dicari
Jawaban masih saja berlari

Ketika 1 + 1 <> 2
Lalu bagaimana dengan 3?
Inikah fatamorgana?
3 tetaplah bukan 2 apalagi 1
Tapi 3 punya arti buat 2, terutama 1

Ketika 1 + 1 <> 2
Jangan kau tanyakan pada itu pada Bima!
Hanya Janoko dan Cupid tahu jawabnya
Dan hanya Sri Kresnha-lah paham maksudnya
Karena dialah masa lalu, masa kini dan masa depan

Ketika 1 + 1 <> 2
Bukan salah Bunda
Bukan salah Ustadz
Bukan salah siapa-siapa
Seperti pujangga melakukan pembenaran

Ketika 1 + 1 <> 2
Di sini akhirnya pertapa
Di sini lahirnya raja
Di sini hadirnya dewasa
Di sini takdir-Nya bicara

Ketika 1 + 1 <> 2
Tak butuh titisan Wisnu
Tak butuh darah biru
Cukup Kunti atau cukup Drupadi
menemani si bijak

Akhir 1 + 1 <> 2
Terima kasih Sejati
Terima kasih simpati
Terima kasih birahi
Bersama menyambut mentari

(TinggalkanKeraguanBerangkatlahDariKepastian)

published by: RaKa Mardika @ 11:17:00 PM

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, sukses Mana?... k-s-d... sebagian malam di Balai Komando... ungu violet... garam... Cerita Sang Tua... masih hidup... Mengenali Tanda-Tanda Kematangan Diri... flight... s m i l e...

Archives: October 2003... November 2003... December 2003... January 2004... March 2004... April 2004... May 2004... June 2004... July 2004... August 2004... September 2004... October 2004... December 2004... March 2005... April 2005... June 2005... August 2005... November 2005... November 2008...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang