<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Wednesday, November 19, 2008

Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, sukses Mana?

Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid-murid dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA (science). Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQ-nya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber-IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum sekolah, beliau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih mewarisi "budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dan sebagainya yang hebat-hebat. Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah-masalah sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli (scientist), arsitektur, ahli computer, ahli matematika, dokter, dan sebagainya yang asyik dengan science di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen, kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P&K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dan sebagainya. Sampai saat ini, masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol. Paradigma berpikir orang tua dan masyarakat yang semacam ini sangat mempengaruhi konsep anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.

Yang Ke-1: Rudy Habibie (Baharuddin Jusuf Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.

Yang Ke-2: Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu tangkis kelas dunia.

Yang Ke-3: Rudy Salam yang suka main sinetron di TV.

Yang Ke-4: Rudy Hadisuwarno yang ahli di bidang kecantikan dan punya banyak salon kecantikan di beberapa kota.

Yang Ke-5: Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu acara memasak di TV.

Sewaktu kak Seto bertanya, "Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?"

Hampir semua anak menjawab, "Rudy Habibie".

Sewaktu ditanyakan, "Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"

Anak-anak pun menjawab, "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi presiden, dan sebagainya."

Sewaktu kak Seto menanyakan, "Rudy yang mana yang paling tidak sukses?"

Hampir seluruh anak menjawab, "Rudy Choirudin".

Ketika ditanyakan, "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?"

Anak-anak pun menjawab, "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak."

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan "enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya. Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor-faktor lain juga sangat menentukan. Dalam seminar tersebut kak Seto hanya ingin mengubah paragidma berpikir anak-anak (dan juga orang tua/keluarga). Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak-anak tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar dari pada pelajaran-pelajaran lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak-anak yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/melukis. Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang baik.

Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang ingin dibicarakan kelak dapat menjadi penulis yang hebat.

Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari pada "wasting time" bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. Penyanyi tersebut dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: dia hanya bisa menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Labels: ,

published by: RaKa Mardika @ 3:34:00 AM

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: k-s-d... sebagian malam di Balai Komando... ungu violet... garam... Cerita Sang Tua... masih hidup... Mengenali Tanda-Tanda Kematangan Diri... flight... s m i l e... a r t i c l e...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang