<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Saturday, April 09, 2005

garam

DIA MAKAN HANYA BERTEMAN GARAM. Tidak ada lauk lain. Ibunya tak mampu membelikannya lauk. Tapi Mariko tetap tersenyum. Mariko tetap berlari mencari belalang, mengejar layang-layang.

Namanya Mariko, biasa dipanggil Eko. Umurnya empat tahun lebih delapan bulan. Berkulit hitam, berambut ikal, giginya putih. Tinggal di sepetak kontrakan bersama ibu yang bekerja sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah, dan dua orang kakaknya. Ayahnya buruh bangunan beristri dua. Eko selalu menjawab tidak tahu, kalau ditanya keberadaan bapaknya.

Ibunya pun hanya ditemui bila matahari telah tegak di atas ubun-ubun. Beberapa saat saja. Setelah itu kembali pergi. Karena dia harus bertahan. Mengumpulkan bakul-bakul cucian dan menyetrikanya. Pulang bila gelap menyergap. Mariko terlelap. Kembali muncul bila besok kembali muncul. Tapi ibu Eko adalah tetap seorang ibu, yang kasih. Dia tahu anaknya butuh makan. Meski harus berteman garam.

Ayah Eko berkumis tebal, bercambang dengan sorot mata tajam. Dingin. Tangan kukuhnya begitu mudah menjewer ketika suatu siang, Eko ketahuan ikut makan di rumah Damar, anakku seusianya. Kini Eko tak berani lagi ikut makan di rumah Damar. Lapar. Kalau sekedar kue-kue Eko masih berani.

Eko tinggal tak jauh dari Jakarta, ibu kota Republik Indonesia. Di Ciputat, di sekitar komplek-komplek perumahan, dimana irama kehidupan berjalan riuh rendah. Teman makan Eko tetap garam.

Keadaan sepertinya begitu menghimpit. Tubuh kecilnya, senyum polosnya seperti tak sanggup lagi menggugah kita. Hati kita begitu tertutup, begitu pengecut untuk sekedar merasakan perasaan, keadaan orang lain. Tak ada lagi yang tersisa dari diri kita yang dititipkan jauh sebelum kita menyadari.

Mungkin Mariko tidak sendiri. Ribuan Mariko lain mengais-ngais. Bukan dari apa yang kita miliki, tapi dari apa yang sengaja telah kita buang. Padahal semestinya tidak boleh ada yang hidup dari sisa-sisa. Tapi mariko mengalami, tanpa tahu kenapa dia harus mengalami.

Mariko juga tidak pernah sobek hatinya. Asinnya garam tidak sanggup mengoyak bahkan melecetkannya. Dia tegar. Kepedihan baginya hanyalah ketika layang-layang yang dikejarnya dirampas orang. Atau belalang yang dikepungnya melompat ke tembok perumahan yang tak mungkin ditembusnya.

Seandainya kita hendak melibatkan Tuhan, dimana letak Tuhan dalam posisi Mariko. Sebab Tuhan tidak akan mencoba Mariko yang kecil, yang lemah dan tidak tahu keadaan-Nya. Mungkin Tuhan ada dalam benak kita, yang tahu keberadaan-Nya, yang bisa menyalahkan-Nya, atau mengeluhkan-Nya. Yang diketahui Mariko pastilah layang-layang dan belalang, atau kue-kue.

Mariko tidak sedang membuat sejarah. Tidak juga sedang melakukan adegan teatrikal. Mariko adalah hari-hari, dimana kita ada di dalamnya, bernaung dalam rengkuhnya. Suatu saat, mungkin kita tahu bahwa, sesungguhnya kenyataan yang kini kita hadapi bersama, adalah kenyataan bahwa kemanusiaan kita telah punah. Yang ada tinggal daging-daging yang lapar dan melahap apa saja yang tersedia. Tidak ada yang tersisa untuk mereka. Sebab mereka bukan kita. (Anang A. Yaqin, ENERGI edisi Mar th VII 2005)

published by: RaKa Mardika @ 11:43:00 PM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: Cerita Sang Tua... masih hidup... Mengenali Tanda-Tanda Kematangan Diri... flight... s m i l e... a r t i c l e... r i e n... agama = baik... the difference... Buruan Cium Shafa...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang