<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Thursday, June 03, 2004

s t o r y

Hai Yang Ku Cinta

Di antara dua Bunga

"Aku benar-benar lelah, maaf ya...," "Yah, wajahmu pucat banget sebaiknya kamu istirahat," Yuni meletakkan tasnya yang selalu kebesaran bila dibandingkan postur tubuhnya yang mungil. Widya yang nampak lesu menghela nafas panjang dan menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang lobi sekretariat. Memang benar kata Yuni kalau wajahnya begitu pucat, ia baru menyadarinya ketika nampak wajahnya di kaca meja. Ia coba pejamkan mata dan mengatur nafas. Sekilas agak samar suara ibunya terngiang seakan mengitari ruang lobi sekretariat yang penuh dengan foto anak-anak. Yuni dan Widya adalah salah satu anggota LSM. Mereka berusaha memperjuangkan anak-anak yang saat ini hampir sama sekali tidak diperhatikan oleh pemerintah. Widya lah yang paling sibuk karena ia mendapat tugas sebagai humas. Foto-foto yang digantung di dinding kini berubah menjadi wajah ibu, semua, ya semuanya dan tatapannya begitu tajam menusuk hingga ke dalam dada Widya. Dan ia hanya bisa berusaha mengatur nafas karena suara ibunya kini serasa semakin jelas, sekitar beberapa langkah darinya.

"Widya, sebaiknya kamu tidak berhubungan lagi dengan Hary," suara itu terus berkata berulang-ulang. "Tapi Bu, kenapa?" ia masih ingat berusaha mendebat, "Ada apa dengan mas Hary?" "Kamu ini masih nanya terus, biarpun sudah diberitahu," "Tapi, itu kan orang tuanya, bukan mas Hary Bu, mas Hary nggak ada hubungannya," "Nggak ada hubungannya gimana? Dia itu anaknya dan begitu orang tuanya, begitu juga anaknya...," "Bu, kami... kami saling cinta Bu," "Cinta, cinta, selalu itu alasanmu," wajah ibunya kian memerah di balik kaca mata. "Kamu tidak cinta ayahmu?" "I.. E.. Tt.. tapi itu kan bukan mas Hary Bu," mata Widya nampak makin bening memantulkan cahaya, "Lagian, kenapa juga Ayah menandatangani surat perjanjian itu...," "Widya!! Ka.. Kamu sudah berani menyalahkan Ayahmu..., Ka kamu..," wanita dengan rambut yang hampir separuh memutih itu tak lagi mampu menahan air matanya dan hanya bisa tersengguk. "Maaf Bu, aku tak bisa mengabulkan permintaan Ibu," Widya kini tak lagi mampu menahan kilau bening di pelupuk matanya dan membiarkanya mengalir diantara pori-pori kulitnya yang lembut. "Widya, Ibu sayang padamu, apa susah mengabulkan permintaan Ibu?" kini Ibu bangkit menghampiri Widya yang berdiri di depan pintu. "Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik yang layak kamu cintai Widya," "Tapi Bu, hanya satu laki-laki yang ku cintai," Seingat Widya, ribuan kali ibunya memperingatkannya dan ribuan kali pula ia berusaha bertahan. Dan pembicaraan mereka selalu dihiasi dengan air mata. Widya tahu jika ayahnya meninggal karena serangan jantung. Dan ia juga tahu jika kejadian itu disebabkan oleh pembatalan sepihak yang dilakukan orang tua Hary yang dulunya adalah sahabat ayahnya. Hingga suatu saat mereka melakukan perjanjian kerja sama namun ayah Hary menghianatinya yang mengakibatkan hampir seluruh kekayaan ayahnya habis. Dan kejadian itu pula yang menyebabkan ia menjadi yatim.

"Tapi itu kan ayah Hary, bukan Hary, dan Hary sudah berulang kali mengucapkan penyesalannya dan memohon maaf," bela Widya setiap ibunya marah ketika ia ketahuan bersama Hary. Mungkin bukan hal berlebihan bila Widya membela kekasihnya setengah mati, ia memang teman yang baik. Ia setia dan tidak sombong seperti ayahnya, setidaknya begitulah penilaian teman-temannya terutama Yuni teman baiknya.

Bukan tidak pernah ia berfikir ibunya sungguh kolot dan keras kepala. Bahkan ia pernah mengancam untuk pergi dari rumah namun ia urung saat melihat air mata ibunya yang memohon. Atau pernah pula ia dan kekasihnya memiliki niat untuk kawin lari. Ia ingin lari dari dilema yang menderanya yang membuatnya lelah dan hanya dapat terobati jika ia dekat dengan kekasihnya.

Mungkin itu yang membuat wajahnya begitu pucat hari ini tapi yang pasti ada peristiwa yang baru saja terjadi yang membuatnya marah hingga menguras seluruh energinya. Ia seakan merasa dirampok tepat di depan hidungnya. Seluruh jerih payah dan usaha yang telah dirintisnya seakan sia-sia ketika ia mendengar proposalnya tidak diterima. Padahal ia begitu yakin dan pihak unicef juga telah memberi sinyal baik sebelumnya tapi entah mengapa keesokan harinya segalanya berubah, dana bantuan itu telah disalurkan ke LSM yang lain. Mungkin jika hanya hal itu yang terjadi, ia tak akan begitu marah tapi LSM itu telah menjiplak semua idenya. Ia telah dirampok.

Kejadian itu kini seperti diputar ulang dalam kepalanya. Ia ingat betapa marahnya ia ketika ketua LSM itu dengan ringan berkata "Yah, siapa yang cepat dia lah yang dapat, bukan begitu?" Hampir saja ia menamparnya andai saja Yuni tidak sigap menahan tangannya yang telah berayun. Dan seketika seluruh temannya pun membawanya pulang ke sekretariat. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranya, sesuatu yang membuatnya merasa tertusuk tepat di lubuk hatinya. Sesuatu yang membuatnya gelisah. Dan pembicaraan itu seakan berputar lagi di kepalanya. "Widya, sabar widya....," bisik Yuni seraya menahan tangan Widya. "Sabar bagaimana? Aku telah dirampok dan aku harus sabar...?" "Ia kami tahu tapi nggak bisa dengan cara begini," "Kamu tahu apa Yun? Kamu tidak merasa memiliki ide ini karena ini semua ideku, dan aku layak mempertahankannya!" Yuni hanya bisa diam membisu. "Aku telah berusaha keras, menghabiskan waktuku yang berharga dan hak itu kini hilang begitu saja? Tidak, tidak hilang tapi dirampok!" "Widya, kami paham tapi ini di depan umum cobalah lebih rasional," suara lembut Ari ketua LSM begitu sabar. Mungkin hanya Ari selain Hary yang dapat meredam amarahnya saat itu. Ari begitu ia hormati dan kagumi karena kesabarannya, kebijaksanaanya dan kewibawaannya. Meski relatif muda untuk menjadi Kyai tapi ketinggian ilmunya mampu membawanya pada tindakan yang bijaksana yang hanya bisa dilakukan para kyai atau ustad.

"Menyakitkan memang, ketika melihat sesuatu yang telah kita usahakan, kita jaga, kita miliki dengan taruhan yang besar bahkan nyawa, hilang begitu saja," nasehat itu begitu lembut disampaikan, "Tapi itulah hidup, kita harus belajar merasakanya agar kita mengerti," Kalimat terakhir itu seakan menusuk hatinya, seakan memperingatkannya akan sesuatu, sesuatu yang selama ini serasa menyiksanya. Hingga tanpa terasa air matanya bagai lilin meleleh oleh sengat panas api. "Widya...," Ia buru-buru mengusap pipinya yang basah ketika mendengar suara Yuni memanggilnya. "Widya, itu ada yang ngejemput...," "Oh, mas Hary ya," Yuni hanya tersenyum mengoda dan berlalu. Ia bangkit, merapikan pakaiannya, meraih tas dan berdiri mematung sesaat. Di dalam hati ia berdoa. "Hai Mas," "Assalamu'alaikum..," "Waalaikum salam, udah lama nunggu?" "Ah enggak ayo naik," jawab Hary sambil membukakan pintu. Dan merekapun meluncur menelusuri jalan yang sedikit basah karena gerimis yang baru saja berhenti. Widya nampak membisu cukup lama hingga ia meminta untuk menghentikan mobil. "Ada apa? Ada yang tertinggal?" "B bbukan, ee aku cuma pengen ngomong sesuatu," Hary nampak bingung dengan sikap Widya saat itu, tapi dengan sabar ia mengikuti keinginan Widya. "Ada apa?" lembut Hary bertanya yang membuat Widya semakin berat mengatakannya. "Kamu sayang aku?" Hary sedikit bingung dengan pertanyaan ini, karena telah ribuan kali ia mengucapkannya. Tapi dengan sabar ia menjawab. "Tentu saja," "Kenapa kamu sayang padaku?" "Widya..., ini..." "Tolong Mas, jawablah...," potong Widya. "Karena.. karena.. kamu kekasihku..," "Apakah kamu merasa memiliki aku...?" "Wid..," "Jawab saja Mas, saya mohon," "Ya, tentu saja Widya," "Mengapa kamu merasa memiliki aku?" Lama Hary tak menjawab, ia hanya diam menatap Widya dengan bingung. Widya tahu, pertanyaan ini memang sangat sulit dijawab dan dia tak mengharapkan banyak agar Hary bisa menjawabnya. Ia mencintai Hary, benar-benar mencintainya dan Hary tahu itu dari pandangan matanya, tapi ia harus menanyakan ini, harus, agar ia bisa memilih. Agar ia bisa memilih seseorang yang layak mendapat hak akan cintanya, hak yang seharusnya menjadi miliknya. Dan orang yang bisa menjawab itu hanya ibunya. Yah hanya ibunya yang telah melahirkanya dengan susah payah dengan taruhan nyawa. Membesarkannya dengan pengorbanan yang besar. Tentu saja, ia memiliki alasan untuk menyayanginya dan mempunyai hak untuk memilikinya.

"Mas, percayalah aku mencintaimu, tapi kuharap engkau pahami ini," bening matanya nampak berkilat dan menetes pada tangannya yang membuka pintu mobil. "Ku tunggu Mas melamarku dengan mas kawin restu dari ibuku," ia ucapkan kalimat itu dengan terpatah-patah dan melambaikan tangan seraya pergi menjauh dan hilang dalam sebuah angkutan umum.

Tak kusalahkan hingga surga di bawah telapakmu
karena itulah hakmu
Mulialah engkau hingga hina aku tanpa senyummu
Bahkan airmatamu adalah penyesalan dalam hidupku
Ijinkan kucium kakimu
hingga ku kan rasakan
desir angin surga membelaiku

Best Regard with truly love,
Acan... R.S. Ngarasan

published by: RaKa Mardika @ 7:18:00 PM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: s i g h t... s i g h t... s t o r y... s t o r y... s i g h t... s i g h t... s t o r y... s o n g... s t o r y... s i g h t...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang