<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Tuesday, June 22, 2004

s t o r y

ilmu

Sore itu sungguh tenang dan hangat, sehangat jiwaku. Terlebih lagi jika ku ingat kejadian seminggu yang lalu, kejadian yang hampir saja melepas nyawa dari ragaku ini, membuat sore itu jadi semakin hangat melebihi hari-hari yang lalu. Dibuai angin sepoi dan mega emas, kukenang kembali hari itu, hari yang menjadi awal kehebohan yang akan terjadi pada sorenya.

Kejadian itu masih jelas tergambar di mata. Dengan riang ku bawa alat pancingku seperti biasa menuju sungai agak jauh di belakang rumah. Memang aku terbiasa memancing setiap sabtu sore di sungai yang tak terlalu besar itu. Kucari tempat biasa aku memancang pancing, tapi sayang, tempat itu kini beraliran deras. Aneh, pikirku, tak seperti biasanya. Akhirnya kususuri pinggir sungai mencari tempat yang lebih tenang, tempat yang paling disukai ikan. Cukup lama hingga ku temui tempat itu, tempat yang luar-biasa. Aku langsung bersiap dan kulempar kail tapi... Tempat itu ternyata licin hingga kakiku tergelincir. Spontan ku coba raih kayu di sekitar sebagai pegangan, namun ternyata kayu itu lapuk dan patah. Begitu cepat tubuhku terperosok dari tempat yang cukup curam dan menggelinding jatuh menuju air. Aku berusaha mengepakkan tangan dan kaki seperti burung namun semakin lama tubuhku semakin tenggelam. Aku baru sadar bahwa aku tak bisa berenang!

"Toloooong!!" tanpa tersadar aku berteriak sekuat tenaga disertai semburan air yang mulai masuk ke mulut. Aku masih terus berusaha untuk meronta agar terus mengambang, namun tak lama dan berlahan semua menjadi gelap dan perutku terasa penuh. Samar namun pasti, tubuhku melayang seperti terbang ke atas. "Ah, sudah matikah aku? Kemanakah aku akan pergi, ke surga atau ke neraka?" hatiku berkecamuk. Tubuhku terasa terus terangkat hingga permukaan bahkan mengambang di atasnya, namun lemah hingga mataku tak mampu ku buka lebar agar tahu surga atau nereka kah kini berada.

Pelan kudengar suara memanggil namaku, seperti dari kejauhan. "Bud..., Budi...," Dan semakin lama semakin jelas. "Ah, suara pak Kyai!" hatiku berseru. "Ah, mengapa suara pak Kyai ada di sini? Apakah pak Kyai juga sudah di surga?" pikirku dalam hati. Berlahan mataku mulai bisa ku buka dan silau. Berlahan pula bayangan pak Kyai hadir di hadapku. "Pak Kyai?" seruku cepat. "Kenapa pak Kyai ada di sini?" "Tenang Bud, tenang... Memang kenapa kalo Bapak di sini?" "Tapi.., pak Kyai belum.. belum..," Ia tersenyum, "Tentu saja Bapak belum mati, kamu juga belum kok!" Aku bingung bercampur lega. Dengan lembut pak kyai membopongku yang masih lemah dan mengantarku pulang. Tapi, kuat juga pak Kyai mampu mengangkatku dan anehnya, bagaimana pakaiannya tidak basah jika tadi ia menolongku dari air. Yah, pakaian putihnya masih kering!

***

Matahari semakin condong ke barat, bayangan pohon tepi sungai mulai menutupi permukaan air sungai yang kini cukup deras. Tempat yang biasa sepi dan hanya dilalui para pencari ikan itu, kini ramai seperti pasar adanya. Orang-orang berduyun-duyun, Bapak-bapak, Ibu-ibu, remaja juga anak-anak bercampur memadati pinggir sungai. Semua menanti dengan tak sabar kedatangan seseorang, seseorang yang terus saja disebut-sebut orang yang kini berdiri di pinggir sungai sambil berkacak-pinggang. Pakaiannya serba hitam dengan tutup kepala hitam pula. Kumisnya lebat dan paras mukanya nampak begitu angker. Ia dikenal sebagai Ki Golang, dukun setempat yang ditakuti. Berkali-kali ia menyumpah dan berteriak-teriak. "Mana Kyai Mullah! Jangan-jangan ia takut ketahuan kalo ilmunya tak ada seujung jariku!". Berkali-kali sambil hilir mudik ia berteriak. Aku yang sedari tadi ada di situ jadi merasa tak enak. Yah bagaimana aku bisa tenang bila kejadian ini berawal dari diriku, dari mulutku ini yang yang terlalu lancang. Walaupun setahuku aku hanya bercerita pada dua orang temanku, toh cerita itu semakin menyebar cepat melebihi kecepatan suara. Cerita pun semakin tak utuh dan semakin besar, bahkan cerita terakhir sungguh menjadi sebuah cerita, layaknya legenda. Katanya pak Kyai bisa berjalan di atas air! Meskipun aku yakin pak Kyai mampu untuk melakukannya, tapi berani bersumpah aku tak bercerita seperti itu!"

Orang-orang semakin ramai berbisik seperti dengung tawon dan tiba-tiba menjadi senyap saat sebuah langkah menuruni jalan setapak. Sosok yang berwibawa dengan jenggot yang mulai memutih sungguh serasi dengan pakaiannya yang putih bersih. Ia berjalan dengan berlahan namun pasti, diikuti pandangan orang-orang yang penuh dengan terkaan juga perkiraan.

"Nah, datang juga akhirnya! Kupikir pak Kyai takut untuk kemari?" Sapa ki Golang sinis. "Hanya Tuhan yang patut ditakuti ki Golang," jawabnya bijaksana "Nah, saya mohon maaf telah terlambat, karena tadi ada orang yang butuh pertolongan." "Ha ha ha, baguslah, ku pikir engkau takut Pak Kyai!" "Hanya Tuhan yang patut ditakuti, ki Golang," sekali lagi Kyai menjawab dengan jawaban yang sama "Nah, sekarang ada apa sebenarnya sampai harus mengundang orang sebanyak ini?" "Ha ha ha, jangan pura-pura tak tahu Kyai, semua orang juga tahu cerita tentang kehebatan Kyai." "Kehebatan? Kehebatan apa?" "Sudahlah Kyai, semua orang sudah dengar cerita yang katanya Kyai bisa berjalan di atas air. Sombong sekali Kyai, cuma bisa begitu sudah mengumbarnya ke masyarakat! Kalo cuma berjalan di atas air, saya juga bisa, bahkan menyeberangin sungai ini!" "Astaghfirullah, saya tak pernah berkata seperti itu," Pak Kyai menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melirikku yang berdiri tak jauh darinya. Aku semakin menjadi tak enak.

"Nah, Bapak-bapak, Ibu-Ibu, juga semuanya, kini saatnya saya perlihatkan siapa sesungguhnya yang terhebat di desa ini! Saya sudah 40 hari mengasah ilmu dan tirakat untuk hari ini, dan saat ini adalah saatnya untuk memperlihatkan hasilnya!" ki Golang berseru kepada seluruh masyarakat yang sedari tadi senyap menanti dengan penasaran.

Ki Golang melirik dan tersenyum sinis pada Kyai Mullah yang masih diam tak bergerak juga tak berkata. Ia melakukan persiapan dan duduk bersila di pinggir kali. Lama ia duduk berdiam dengan khusyuk dan tiba-tiba ia berdiri. Dengan sebuah teriakan yang membahana ia berlari menuju air sungai yang mengalir deras. Luar biasa, seakan sebuah daun ia berlari ringan di atas air! Benar-benar di atas air! Semua orang nampak takjub tak percaya dengan pemandangan yang mereka saksikan. Ki Golang benar-benar berjalan di atas air sambil berlari. Hanya Kyai Mullah yang nampak tenang bahkan lirih kudengar ia mengucap "Astaghfirullah." Aku hanya merasa bingung dengan semua ini, bagaimana kyai menyikapinya, "ah aku benar-benar bodoh!" pikirku dalam hati.

Tapi pemandangan luar biasa itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba ki Golang berteriak kuat dan... ia tenggelam tepat di tengah sungai yang beraliran deras. Seluruh masyarakat berteriak tak percaya. Mereka berlari ke pinggir sungai. Kyai Mullah yang sedari tadi diam langsung berseru memanggil Dullah dan Amir. "Cepat, kalian tolong ki Golang!" Orang yang diperintah langsung terjun ke sungai menolong ki Golang yang tak kelihatan lagi.

Lama juga Dullah dan Amir berenang menerjang aliran sungai yang deras dan menyelam menggapai ki Golang yang tenggelam. Untunglah ada Dullah dan Amir yang memang paling jago berenang di desa, dan akhirnya ki Golang dapat dibawa dipinggir. Kyai Mullah menghampirinya dan mengurut jari kaki ki Golang dan tak lama ki Golang tersadar. Tapi tiba-tiba ki Golang berdiri sehat seakan tak terjadi sesuatu dan tertawa. "Sudah-sudah, aku tidak apa-apa! aku cuma tenggelam, aku memang gagal tapi aku sudah separuh perjalanan!" teriak ki Golang. "Nah pak Kyai, sekarang giliranmu! Kalo Kyai bisa menyeberang melebihi yang aku bisa, aku akan bersujud di kakimu!" "Subhanallah, hanya Tuhan yang patut untuk diberi sujud, ki Golang!" "Rupanya Kyai takut?" Kyai hanya menggeleng tak percaya dengan kebengalan ki Golang. Dia hanya diam namun tak lama ia berkata. "Baiklah," spontan seluruh masyarakat bersorak dan bertepuk tangan. "Tapi, bukan aku yang akan melakukannya!" masyarakat kembali terdiam. "Nah ki Golang, berapa lama ki Golang belajar agar bisa menyeberangi sungai ini?" "Ha ha ha, 40 hari tirakat, puasa!" jawab ki Golang sombong. "Baiklah, aku akan mengajarkan cara menyeberangi sungai ini pada seseorang dalam waktu dua jam!" Semua orang menjadi terdiam tak percaya dengan ucapan Kyai, bahkan ki Golang melotot tak percaya. "Jangan bercanda Kyai," katanya. "Saya tidak bercanda dan saya akan mengajarkannya pada Budi!" Aku seperti disamber geledek saat mendengar namaku disebut. Aku hampir tak percaya sampai akhirnya tanganku digandeng Kyai ke depan. Mungkinkah Kyai bercanda, ataukah ini hukuman untukku karena telah mempermalukannya? Ataukah ia bersungguh-sungguh akan mengajarkan ilmunya padaku. Hatiku dag dig dug!

***

Dengan berwibawa, Kyai menggandengku ke tengah masyarakat tanpa banyak bicara. Beliau meminta golok dan tali pada seseorang dan memintaku untuk membawanya. "Mungkinkah ini salah satu alat untuk berlatih?" tanyakku dalam hati penasaran. Tapi Kyai mengajakku ke pepohonan di sekitar sungai dan memintaku untuk menebangnya, satu di antaranya yang tak terlalu besar. Juga dua pohon pisang dan membawanya ke pinggir sungai. Dengan cekatan beliau mengikat kayu dan dahan pisang menjadi satu. Ia juga mengajariku. Tak lama, tak lebih dari dua jam, terbentuk sebuah rakit kecil dengan dahan pisang di pinggirnya, juga sebuah galah yang cukup panjang. Dan tanpa banyak bicara dia mengajakku menariknya ke pinggir sungai dan membisikan sesuatu padaku. Aku menggangguk dan seketika aku menjadi tenang luar biasa. Dengan sekuat tenaga ku jatuhkan rakitku ke sungai dan menaikinya. Semua orang masih bengong, ada juga yang berbisik. Aku bersusah payah mengendalikan rakitku agar tak hanyut oleh aliran deras sungai. Entahlah, kekuatan apa yang telah kuperoleh tapi semuanya terasa ringan. Arus sungai yang deras itu mampu ku lewati dengan mudah, seakan aku mendapat tenaga dari orang yang kuat yang tak kelihatan. Aku hanya butuh setengah jam untuk menyeberangi sungai dan kembali lagi.

Setelah sampai di tepi lagi, Kyai menggapai tanganku untuk naik ke daratan. dan Beliau berkata. "Nah Bapak-bapak, Ibu-Ibu, juga semuanya, semua bisa menyeberangi sungai ini, tak hanya saya. Bahkan Budi yang sekecil ini," beliau memandangku dan tersenyum, "pun mampu." "Ilmu itu ada banyak, ada ilmu yang wajib, juga yang sunah, dan semua itu adalah Ilmu Allah, Ilmu-nya Tuhan. Nah tugas kita adalah mempelajarinya dan memilih ilmu mana yang paling berguna dan bermanfaat juga efisien bagi kita. InsyaAllah, apapun ilmu itu, jika dicari dengan jalan Tuhan, Tuhan akan meridhoinya.." Kyai Mullah masih menggandeng tanganku dan mengajakku pulang. "Sekarang mari kita pulang, mari kita terus bekerja sesuai dengan ilmu yang Tuhan anugerahkan pada kita. Ada yang diberi ilmu bertani, ada yang diberi ilmu nelayan, juga ada yang diberi ilmu mengajar. Mari kita pulang..."

***

Kejadian sore tadi masih membuatku terus berfikir, apakah Kyai benar-benar bisa berjalan di atas air? Tapi kenapa kemarin beliau malah mengajari aku membuat dan menaiki rakit? Tidakkah Kyai takut malu pada ki Golang?

Pertanyaan itu terus terngiang hingga aku bertemu Kyai Mullah setelah sholat Isya. Beliau nampak berseri memandangku. "Nah Budi, ada apa?" tanyanya lembut. "Saya mau minta maaf sudah merepotkan Kyai," kataku pelan. "Tidak, tidak Bud, kamu malah membantu Bapak," "Membantu?" "Iya," aku bingung dan hanya mengerutkan dahiku. "Kamu sudah membantu Bapak untuk berdakwah," lanjut Kyai. "Tapi Kyai, Budi boleh tanya sesuatu pada Kyai?" "Tentu," "Tapi Kyai jangan marah," Beliau tersenyum lebar. "Buat apa Bapak marah? Nah apa yang mau ditanyakan?" "Sebenarnya Kyai bisa berjalan diatas air kan?" Kyai tersenyum lembut dan membelai rambutku. "Apapun itu, bila Tuhan menghendaki, bisa terjadi" Kyai tersenyum lagi seperti biasa. Sungguh berwibawa dan sejuk. Aku menjadi yakin, Kyai bisa berjalan di atas air, bahkan mungkin beliau juga yang membantuku mengendalikan rakit meski tak terlihat.. Yah aku yakin, dan aku tersenyum bersama senyum Kyai Mullah.

***

Biarlah kerikil tajam di hadapan
Biarlah batu terjal menghadang
Raihlah dia
penunjukmu
pelitamu dalam hidupmu

Sungguh luas dia hingga ke penjuru dunia
Sungguh beraneka dia dan berwarna
Dan pilihlah dia
Yang terbaik untukmu
yang bermanfaat bagimu

Dia adalah ilmu

RSN--21/06/04/--RSN

published by: RaKa Mardika @ 3:58:00 AM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: Nasionalisme Baru... i n f o... p o e m... s t o r y... s t o r y... s i g h t... s i g h t... s t o r y... s t o r y... s i g h t...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang