<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Friday, October 31, 2003

p o e m

Tak Tahu Aku Apa Jati Diriku Kini

Kita hampir paripurna jadi bangsa porak poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta, pengungsi 1 juta, VCD koitus 20 juta keping, beban hutang di bahu 160 trilyun dan kriminalitas merebak di setiap tikungan jalan.

Sebagai bangsa kita dibelah dan dipecah, tiang hukum berdiri goyah, represi opini dulu 39 tahun lamanya kini jadi lepas bablas, massa mudah marah, gampang membakar, dan ringan membunuh. Harga semua barang naik. Harga yang turun dan murah masih ada satu, yaitu harga nyawa. Dalam semua hal Indonesia sudah mirip neraka, dan sorga satu-satunya yang kita miliki adalah sorga ponografi piring cakram vcd bajakan di dunia.

Batas halal dan haram di negri kita sudah tidak jelas, seperti benang hitam terbentang di hutan gelap jam satu malam. Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, yang di belakang tukang peras, yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia kini, sudah untung.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita kaos oblong dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu di dunia, diusir pula di tangga pelabuhan terapung-apung di lautan.

Kita sudah tidak merdeka lagi. Indonesia sudah masuk ke dalam masa kolonialisme baru, dengan penjajah yang banyak negara sekaligus.

Nilai-nilai luhur telah luluh lantak, berkeping-keping dan hancur, berserakan di kubangan lumpur.

Kening saya mungkin masih ingin jadi cermin keimanan, tapi sepatu dan celana saya terbenam dan terpercik lumpur tipu-menipu.

Hati saya rindu pada nilai keterus-terangan, tapi setiap hari saya terus berdusta, langsung dan tak langsung, di belakang orang dan bermuka-muka.

Nilai ketertiban ingin saya tegakkan, tapi bila lampu merah di simpang jalan menyala, dan mobil-mobil di belakang saya bising dengan klaksonnya, saya pun melanggar lampu merah itu tanpa rasa bersalah.

Nilai sedekah saya hitung dengan akuntansi pahala dan publikasi media massa. Kalau sumbangan saya tidak mendapat di halaman depan atau diliput kamera tayangan berita, sifat ingin menonjol saya tidak sudi dikorbankan.

Nilai ikhlas dalam beramal, saya campur-adukkan dengan sifat riya’, karena saya gemar benar mengatakan dan menunjukkan kepada teman-teman saya, bahwa saya pemegang medali emas, pemenang nomer satu dalam olimpiade keikhlasan.

Nilai kejujuran saya tegakan mati-matian untuk seluruh bangsa, tapi kalau kawan-kawan menawarkan proyek dengan mark-up setinggi pohon kelapa, atau apa saja sepak-terjang yang melibatkan pemasukan uang, demi ideologi nilai kejujuran itu saya skors sementara.

Nilai kerja-keras bercucuran peluh selalu saya ajarkan kepada anak-cucu-kemenakan saya, tapi sebenarnya dalam praktek sehari-hari jalan memotong yang saya kerjakan, dan itu saya sembunyikan.

Nilai menghargai nyawa manusia, heran sekali saya, pudar dalam diri saya. Melihat anak muda dipukuli massa, lembam-lembam, berdarah-darah tak berdaya, karena ketahuan melarikan motor bukan miliknya, kemudian tergeletak sebagai mayat, saya tidak haru lagi seperti lima tahun yang lalu. Saya pergi saja dari kerumunan massa yang pemarah itu, yang tak bertanya a atau u.

Saya sudah kebal. Saya sudah kebal.

Kemudian sore ini saudara saya bertanya pada saya, bagaimana jati diri saya?

Saya beberapa detik memandang saudara. Ini mengejek, menyindir, menusuk perasaan, atau apa?

Lihat saja sepatu saya berkubang lumpur, celana saya terpercik lumpur bercampur air selokan kumuh, wajah saya keruh, pusat susunan syaraf saya berlumpur, hati saya berbalut lumpur. Cukup?

Sekarang tolong saya membersihkan ini semua. Tolong. Jangan saya diberi teori, dikuliahi itu dan ini, dinasihati dengan petuah-petuah zaman kiwari.

Cukup, cukup, cukup.

Telanjangi saya sekarang dan mandikan saya bersih-bersih. Tolong.

Sumber: Puisi Taufiq Ismail

published by: RaKa Mardika @ 7:49:00 PM

p o e m

Dimanakah Cinta?

Dimanakah Cinta...
Ketika arogansi merajalela dalam penghancuran tempat-tempat tinggal
Ketika kesombongan mewujud dalam amarah yang tak jelas arahnya
Ketika bangunan itu satu-persatu rubuh dan tinggal puing-puing belaka
Ketika tiada lagi asa tersisa pada diri mereka yang lara

Dimanakah Cinta...
Ketika ratusan keluarga tak lagi miliki tempat bernaung
Ketika deras hujan dan terik mentari menjadi sangat biasa
Ketika bocah-bocah cilik tak lagi temukan tempat bermain
Ketika para ibu harus rela menyusui bayi-bayinya di tempat terbuka
Ketika para ayah tak tahu lagi harus mengais rejeki di mana

Kemanakah Engkau, Cinta...
Ketika puluhan anak tak lagi lanjutkan sekolahnya
Ketika sang ibu berkata dengan pilu, "Lupakan saja sekolahmu. Makan pun belum tentu ada..."
Ketika sang ayah tertunduk luka, "Kemana aku harus mencari kerja?"

Kemanakah Engkau, Cinta...
Ketika ujian akhir sekolah harus tertunda
Ketika tiada lagi harapan untuk belajar
Ketika pakaian hanya tinggal yang melekat di badan
Ketika buku-buku terkubur entah dimana

Kemana perginya Engkau, Cinta...
Ketika masa depan tak lagi terbayang
Ketika esok hari tak lagi pasti dihadapi
Ketika cita-cita terbungkam kepongahan
Ketika harap dan impian terkubur kesewenangan

Kemanakah dirimu, Cinta...
Ketika mereka mencoba bersabar
Ketika tegar menjadi keharusan
Ketika mereka menutupi perih di dada
Ketika senyuman menjadi sangat dipaksakan
Ketika kelam menggayuti hari-hari gulana
Ketika bahagia tak lagi ikut serta
Ketika gelisah menjadi teman setia
Ketika mendung tak segera sirna dan tak jua berganti mentari yang cerah
Ketika pelangi tak jua muncul dalam gerimis yang semakin deras
Ketika tatap-tatap itu menjadi hampa dan kosong makna
Ketika hidup tak lagi sumringah
Ketika wajah-wajah tak lagi punya harap dan asa

Cinta...
Kembalilah.
Berhentilah menjadi bayang semata.
Dan turunlah ke bumi segera.

~mengenang beberapa penggusuran di Ibukota.
Sumber: CyberDakwah@yahoogroups.com

published by: RaKa Mardika @ 7:34:00 PM

Sunday, October 26, 2003

replied

Lhukie: :D Met Puasa Rha-K :D
rha-k replied: Oke deee... Met puasa juga utk-mu Lhukie... Dan yg lainnya juga yg menjalankan ibadah puasa... Semoga nggak sia2 apa2 yg kita lakukan... Urusan pahala bukan wilayah wewenang kita... Kita cukup berusaha dan selalu lurus... Maaf lahir batin yaa! :)

c|eL: raka, vielen dank fuer das Helfen ich, uebrigens ich wohne in balipapan.. :)
rha-k replied: Danke auch... Danke auch... Und Ich wohne in KaRaWaCi... Indonesia uber ales lah... :D

lia: emangnya dikau bukan abege?? heuheuhu..jadi maluw sayah^^
rha-k replied: Hiii, aku udah lewat tuw masa2 abg-nya... Sekarang sepertinya mulai abg-pause... Hehe :D

vic: :D tabik pakkk... heheh kesasar sayah
rha-k replied: Hohoho... Tdk apa2... Jgn kapok ya maen ke sini lageh... ;)

aXL: rha-k, ... jangan kebanyakan merenung... atau hrs merenung ya? .. biar jual pulsa nya laris .. hehe ..
rha-k replied: Hehehe, bisa ajah nih orang... Ayo ayo... Pada ikutan jd member dong! :D

nicegreen: mohon maaf jika ada kesalahan... :)
rha-k replied: Iya, sama2 ya Lind... :)

Lhukie: Dilarang mikir ngeres :p :D
rha-k replied: Dihh, sapa yg mikir ngeres... Saya kan cuma ngebayangin agak jauh... Itu juga bentaran ajah kok, nggak lama2... :D

-inex-: wahhh isi blognya berbobot neh :p cieh cieh *tersanjung gaQ* :)
rha-k replied: Ma-ka-zih... Ma-ka-zih... Ma-ka-zih... Emang bisa ditimbang apah, bobotnya? :D

ita: komen lo ga disensor ko, ka... malah gue jadi punya ide mau posting lagi ttg kualifikasinya & kapan deadline-nya :p
rha-k replied: Wah wah, jadi itu serious matter tah? ;)

rieke: hi rha-k, salam kenal juga, yeay tetap semangat ya, nak...:) cheers
rha-k replied: Aduuh... bu Rieke menjatuhkan kedewasaan saya neh... Tapi mau dong ngerasain jadi anaknya bu Rieke... hehehe *ngelindur* :D

fariedz: templetnya adem dan simple tuh sipp.. berani amir lu masang gambar gituan. sapa takut?
rha-k replied: Wuuuuh, gambar yg manah lageh neh??? ;)

sandy: genrenya apaan nih rha-k or multi genre, btw lo cara ngeset blogspot lo gimana sih g baru belajar nih
rha-k replied: Hmm, genre-nya... Poly-Genre ngkali ya'... Hmm, kapan ada waktu, ntar gw kasih tau... :)

sandy: rha-k g ga nyangka ternyata lo punya state of the art website to reflect your feelings through others, selamat kapan kita hanging around lagi
rha-k replied: Hei, maap akhir2 ini gw siboek... Maklum... Banyak jadwal baru... :D

Lhukie: :bowling: haduh ...haduh ... gambarnya :bowling:
rha-k replied: Uhuk uhuk... Gambar yg manah??? ;);)

nicegreen: weleh-welwh... gambarnya.... *geleng2
rha-k replied: Gambar yg manah??? ;)

ita: kok S57 naek lagi si harganya? tadinya turun jadi 1,9 jt skrg jadi 2,25! ga jadi beli deh!! huhuhuuuu :((
rha-k replied: Waah, jgn komplain ke saya duong... Kalo saya bisa bikin hp, neng Ita ntar saya bikinin khus... S-it4nr... hehehe, keren tuw! :D

SyL: Raka, image yg ada di postingan terakhir ditaruh di Geocities ya. Hiks hiks hiks, dari negara tempat Syl tinggal, Geocities tidak bisa di access....:(
rha-k replied: Saya ngerti... Saya ngerti... Saya ngerti... :uhh:

heri: eh lupa....templatenya oke juga...kapan diresmiin tayangnya...
rha-k replied: Hmm, itu untuk tempat kita mas... silakan dikunjungi... buat yg lainnya sama juga... silakan dikunjungi, di-lihat2... :D

heri: thank alot K-ha... gak usdah ngerepotin kamu deh...entar kalo yang di atas ngizinin, InsyaAlloh undangan untuk kamunya hadir..doain ya....
rha-k replied: yupe... jgnkan doa... doa kuadrat pun saya kasih, spesial buat mas Heri dan mbak Y... :D

published by: RaKa Mardika @ 2:55:00 PM

Sunday, October 12, 2003

poems

the lonely island

The moon visits an island
To share its soft light sincerely
But the island fears
The moon will regret to find out
That the island has no beauty to show

The rain stops by an island
To share its cool water freely
But the island fears
The rain will regret to find out
That the island has no plants to grow

The sun cheers an island
To share its energy abundantly
But the island fears
The sun will regret to find out
That the island has no resources to pool

The island keeps its distance
Because it fears
It will disappoint the moon, the rain, and the sun
And so the island remains untouched
The island remains lonely

regards: friend

published by: RaKa Mardika @ 5:12:00 PM

poems

a letter to my ego

Dear ego...
You've controlled me for my entire days
But now I'm saying goodbye to you

Dear ego...
You've made me dance
Into the rhythm of selfishness and ignorance
But tonight, I have the ballroom all to myself

Dear ego...
You've thrown me into the river of madness
And hit me with falling rocks
But now, I'm flying over you

Listen to me ego...
I'm your master now
But you're not my slave
Cos I still need you to color my life

regards: friend

published by: RaKa Mardika @ 5:07:00 PM

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, sukses Mana?... k-s-d... sebagian malam di Balai Komando... ungu violet... garam... Cerita Sang Tua... masih hidup... Mengenali Tanda-Tanda Kematangan Diri... flight... s m i l e...

Archives: October 2003... November 2003... December 2003... January 2004... March 2004... April 2004... May 2004... June 2004... July 2004... August 2004... September 2004... October 2004... December 2004... March 2005... April 2005... June 2005... August 2005... November 2005... November 2008...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang