<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Monday, July 05, 2004

presiden pilihan

TIDAK MUDAH (untuk) bisa menjadi pilihan semua orang. Karena berarti harus sesuai dengan pilihannya (secara kriteria), harapannya, idealisasinya. Yang bisa adalah mendekati keinginan sebagian orang. Tinggal bagaimana meyakinkan sisanya.

Ketika sekarang begitu banyak orang merasa yakin bisa memenuhi pilihan, yang terjadi bukan berarti cukup banyak orang tersedia yang bisa memenuhi keinginan banyak orang. Tetapi, semakin terdesaknya harapan-harapan, sehingga sudah pasti orang terpilih bukan orang yang mewakili semua orang.

Dalam sistem bernegara dimana presiden terpilih adalah pilihan sedikit sisa dari pilihan yang lain, seringkali si terpilih menjadi lupa bahwa dia memiliki tugas berat (untuk) meyakinkan mereka yang tidak memilihnya. Akibatnya, ketidakyakinan perlahan merayapi seiring tidak mudahnya kepercayaan dilekatkan pada diri seseorang.

Presiden pilihan bukanlah presiden dimana semua orang setuju terhadapnya. Presiden pilihan adalah yang paling berhak untuk melakoni persetujuan sebagian orang tanpa sebagian lainnya berusaha memikirkan untuk merintanginya. Sementara presiden pilihan sesungguhnya belum merupakan tradisi, maka berarti akan ada banyak rintangan terhadap persetujuan dimana sebagian yang lain akan tetap memikirkan untuk memperbesar ketidakyakinannya.

Jawaban atas soal ini adalah, presiden pilihan selayaknya yang memiliki paling sedikit cacat. Sedikit cacat berarti memiliki tugas lebih sedikit memperbaiki cacat sambil memperjuangkan penyempurnaan ketidaksetujuan terhadapnya. Cacat yang banyak (menyebabkan) semakin besar kesempatannya untuk hal tersebut, karena banyak tugas dalam memperbaiki cacat-cacatnya.

Cacat sosial dalam hal ini yang paling berbahaya. Karena dia bukan sekedar tidak lengkap, dia seperti luka yang tidak bisa disembuhkan dan mudah membesar. Begitu luka-luka itu membesar, tersedotlah energinya untuk melakoni persetujuan dan meyakinkan ketidaksetujuan.

Sisa waktu kita untuk menentukan pilihan tinggal sedikit. Cita-cita, harapan, idealisasi sudah dipancangkan. Namun, orang yang dituju (mungkin) masih samar. Semestinya, para calon terpilih semakin menunjukkan jati dirinya, di tengah kalangan diamana semua pasang mata hendak tertuju. Seandainya kesamaran para calon bisa diakhiri dengan calon ideal, (maka) tinggal sedikit lagi agenda pilihan harus ditentukan.

Tetapi tampaknya, calon ideal dikabarkan jauh dari ideal. Maka agenda kali ini sebetulnya akan lebih rumit dari yang dibayangkan. Membangun tradisi pilihan saja sulit, apalagi meyakinkan pilihan tersebut sudah sesuai. Tampaknya dalam beberapa waktu ke depan, akan begitu banyak persoalan yang (mesti) diselesaikan. Entah menjadi tugas para calon (presiden), mungkin juga menjadi tugas para pemilih. Entah.

published by: RaKa Mardika @ 9:12:00 PM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: mari berhenti sejenak... s t o r y... Nasionalisme Baru... i n f o... p o e m... s t o r y... s t o r y... s i g h t... s i g h t... s t o r y...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang