<$BlogRSDUrl$>
ini untuk banner blogger
  tempatkita       tempatku  
   
 
     
 

Sunday, January 25, 2004

p o e m

Sajak Anak 8 Tahun Menjelang Pemilu
Publikasi: 09/01/2004 13:51 WIB

9 Januari, 2004, Abdurahman Faiz.
Helvy Tiana Rosa

eramuslim - Hari ini Faiz pulang cepat dari sekolah. Sambil bermain komputer, ia menanyakan berbagai hal tentang Pemilu 2004. Tentang KPU, usia pemilih dan yang dipilih, tentang artis yang menjadi caleg, tentang apa dan siapa yang disebut politikus busuk, soal bagaimana mekanisme pemilihan bagi para tunanetra dan masih banyak lagi. Saya sampai kewalahan menjawabnya. Ia terus mengoceh ini itu. Saya katakan, "Bagaimana kalau Faiz tulis apa yang ingin Faiz sampaikan seperti biasa? Siapa tahu bisa jadi puisi bagus?"

"Iya, Bunda," katanya ringan.

Tapi kemudian ia menghilang dan saya temukan sedang asyik membaca buku cerita "Kluntung Waluh" di garasi. Satu jam kemudian ia sudah sibuk menceritakan kembali isi buku tersebut pada kedua pembantu kami.

Kluntung Waluh bercerita tentang seorang anak kecil miskin yang lahir tanpa kaki dan tangan. Namun ia tak pernah mengeluh dan rajin membantu ibunya. "Anak kecil aja bisa begitu!" seru Faiz.

Ia kembali masuk ke kamar dan duduk di depan komputer. Saya pikir, ia akan bermain game atau menulis tentang Kluntung Waluh yang telah menyentuh hatinya. Ternyata tidak.

Menjelang salat jum'at, jadilah puisi di bawah ini. Puisi yang sangat menyentuh bagi saya, hingga saya menitikkan airmata. Dan sambil memiringkan kepalanya, menatap saya serius, Faiz malah bertanya, "Mengapa sih bunda menangis lagi karena puisi?"

SAJAK ANAK 8 TAHUN, MENJELANG PEMILU

Bunda.
mengapa anak 8 tahun.
tak boleh ikut pemilu?

Karena kalau kami bisa memilih.
kami akan pilih.
mereka yang berbudi.
dan selalu peduli.
yang tak pentingkan diri sendiri
tak pernah melanggar hukum.
serta paling anti korupsi.

Kami pasti memilih
mereka yang berwawasan
namun takut pada Tuhan.

Tak usah tawari kami uang.
apalagi permen atau mainan.
kami tiada sudi.
sebab kami pemilih sejati.
yang rindu senyuman negeri.

maka orang-orang yang tak bersih.
menyingkirlah dari jalan ini.

Bunda, mengapa anak 8 tahun.
tak boleh memilih.
dan harus menunggu.
sampai 2014?

Sebab andai bisa memilih.
dalam pemilu ini,
kami akan pastikan yang terbaik.
bagi Indonesia.

Faiz Abdurrahman, adalah pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tingkat Nasional, Kategori Kelas I-III SD dalam Rangka Hari Anak 2003, dan diumumkan pada 10 Agustus 2003, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

published by: RaKa Mardika @ 6:14:00 PM

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..."
(Pramoedya Ananta Toer)

.: = http://tempatkita.blogspot.com = :.

Previous post: p o e m... p o e m... p o e m... p o e m... p o e m... p o e m... article... p o e m... p o e m... replied...

This page is powered by Blogger :)


 
     
 
  Mardi-k Lab. (contact) 1996-sekarang